Langit pagi di Tanjung Selor, Sabtu (9/5/2026), tampak cerah tanpa mendung. Udara masih terasa sejuk ketika satu per satu kendaraan mulai memasuki halaman Kampus Universitas Kaltara. Jam bahkan belum terlalu siang, namun aktivitas di lokasi sudah begitu sibuk. Puluhan anak muda dengan kaos organisasi dan almamater kampus tampak mondar-mandir memindahkan bantuan.
Rachmad Rhomadhani, Pena Kaltara
Karung beras diangkat bergantian. Dus mie instan disusun rapi di bak mobil. Minyak goreng, gula, telur, perlengkapan dapur, hingga kebutuhan pokok lainnya dipastikan tidak tertinggal. Sesekali terdengar suara teriakan kecil memastikan daftar logistik. “Kompor sudah masuk belum?”
“Sudah, tinggal alat dapurnya sedikit lagi.”
“Air mineral taruh belakang saja biar mudah diturunkan nanti.”

Di tengah kesibukan itu, tidak ada wajah yang menunjukkan keluhan. Meski sebagian besar sudah berkegiatan sejak pagi, semangat mereka justru tampak semakin hidup. Hari itu bukan sekadar perjalanan biasa. Hari itu adalah perjalanan kemanusiaan.
DPD KNPI Bulungan bersama BEM Universitas Kaltara memulai misi sosial menuju Desa Long Lasan, wilayah pedalaman yang beberapa waktu lalu dilanda kebakaran hebat hingga menghanguskan rumah-rumah warga.

Musibah itu meninggalkan duka mendalam. Tidak sedikit warga kehilangan tempat tinggal, perlengkapan rumah tangga, hingga kebutuhan sehari-hari. Kabar kebakaran itu kemudian menggugah hati para pemuda di Bulungan.
Selama tiga hari penuh, mereka bergerak melakukan penggalangan dana di berbagai titik. Dari jalanan kota hingga lingkungan kampus. Dari hasil penggalangan itu, terkumpul bantuan sebesar Rp15.100.000.
Dana tersebut kemudian dibelanjakan menjadi berbagai kebutuhan pokok dan perlengkapan dapur yang benar-benar dibutuhkan warga terdampak. Sebagian lainnya disiapkan dalam bentuk bantuan tunai.

Namun di balik bantuan yang terlihat menumpuk di halaman kampus pagi itu, ada hal yang jauh lebih besar daripada sekadar angka dan barang. Ada kepedulian yang tumbuh dari rasa kemanusiaan.
Sebelum perjalanan dimulai, seluruh relawan berkumpul membentuk lingkaran kecil di halaman kampus. Suasana yang tadinya riuh perlahan berubah tenang. Kepala-kepala tertunduk. Doa bersama dipanjatkan.
Di tengah hening pagi, suara doa terdengar lirih memohon keselamatan sepanjang perjalanan.
“Semoga perjalanan hari ini diberi kelancaran, dijauhkan dari hal-hal buruk, dan bantuan ini bisa benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan,” ucap salah seorang peserta doa.

Perjalanan kemanusiaan tersebut dipimpin langsung Ketua DPD KNPI Bulungan, Ir. Wanna Imanda, S.T. Sebelum kendaraan bergerak, ia memastikan seluruh persiapan dilakukan secara rinci. Mulai dari pengecekan kendaraan, kondisi ban, bahan bakar, hingga pembagian logistik diatur dengan teliti.
Sebab mereka memahami, perjalanan menuju Long Lasan bukan perjalanan singkat.
Sekitar pukul 11.00 WITA, tiga kendaraan roda empat akhirnya bergerak meninggalkan Tanjung Selor. Perlahan, iring-iringan kendaraan itu membelah jalanan menuju wilayah pedalaman.

Di sepanjang perjalanan, kendaraan mereka beberapa kali menjadi perhatian warga. Bak mobil yang dipenuhi bantuan membuat banyak orang penasaran.
“Barang apa itu banyak sekali?” tanya seorang warga di pinggir jalan.
“Mau antar bantuan ke Long Lasan, korban kebakaran,” jawab salah seorang mahasiswa dari dalam kendaraan.
Warga itu hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kagum.
Perjalanan terus berlanjut. Aspal perlahan berganti jalanan panjang yang mulai sunyi. Pepohonan lebat terlihat mendominasi sisi jalan. Sesekali kendaraan harus melambat karena kondisi jalan yang tidak seluruhnya mulus.

Di dalam mobil, suasana kadang hening karena lelah, lalu kembali ramai oleh obrolan ringan. Ada yang membahas kondisi warga korban kebakaran. Ada pula yang bercanda untuk mencairkan suasana.
“Kalau pulang malam jangan sampai ada yang tidur semua, nanti sopirnya ikut tidur,” celetuk salah satu peserta yang langsung disambut tawa.
Sekitar tiga jam perjalanan, rombongan akhirnya berhenti sejenak di pinggir jalan untuk makan bersama. Tidak ada rumah makan besar. Hanya tempat sederhana dengan pemandangan jalan panjang dan pepohonan.
Nasi bungkus dibuka bersama-sama. Sebagian duduk di tikar kardus, sebagian lainnya memilih duduk di tepi kendaraan.

Namun justru di tempat sederhana itu, terasa kebersamaan yang begitu hangat.
Sambil makan, mereka kembali membahas teknis penyaluran bantuan di lokasi.
“Sudah pasti bisa dihubungi kepala desanya?” tanya salah seorang relawan.
“Terakhir komunikasi aman, tapi sinyal mulai hilang-hilang,” jawab lainnya sambil mencoba mengecek telepon genggam.
Benar saja, semakin jauh perjalanan ditempuh, jaringan telepon mulai menghilang. Pesan yang dikirim tertahan. Panggilan telepon terputus-putus. Kondisi itu membuat koordinasi dengan pihak desa mulai sulit dilakukan.
Meski begitu, perjalanan tetap dilanjutkan.
Sekitar 45 menit kemudian, rombongan akhirnya tiba di titik penyeberangan menuju Desa Long Lasan. Sore mulai turun. Cahaya matahari perlahan berubah kekuningan di tepian sungai.

Di lokasi itu, beberapa warga terlihat baru pulang bekerja. Mereka memandang kendaraan rombongan dengan rasa penasaran.
“Mau ke mana ini?” tanya seorang bapak sambil mendekat.
“Mau antar bantuan untuk warga korban kebakaran di Long Lasan,” jawab salah seorang anggota KNPI.
Warga itu tampak terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
Beruntung saat itu ada perahu ketinting yang baru saja datang menjemput para pekerja untuk menyeberang sungai. Namun sesuatu yang tak terduga terjadi.

Alih-alih lebih dulu menyeberang, warga justru mempersilakan rombongan KNPI dan BEM untuk menggunakan perahu tersebut.
“Bawa dulu adik-adik ini menyebrang. Mereka mau ketemui pihak desa untuk antar bantuan,” ujar seorang warga kepada pengemudi ketinting.
Kalimat sederhana itu mendadak membuat suasana terasa hangat.
Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, kepedulian justru terasa begitu tulus.
Karena tidak adanya jaringan komunikasi di titik penyeberangan, beberapa perwakilan terlebih dahulu diseberangkan untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa. Satu-satunya akses internet saat itu hanya tersedia melalui Starlink yang ada di desa.

Sekitar 30 menit kemudian, ketinting kembali datang menjemput rombongan berikut logistik bantuan. Namun proses pemindahan barang tidak berjalan mudah.
Tepian sungai yang licin membuat kendaraan tidak bisa terlalu dekat dengan titik muat. Barang-barang pun harus dipindahkan secara manual sejauh kurang lebih 30 meter.
“Pelan-pelan, jangan sampai jatuh!”
“Tahan dulu di bawah!”
“Karung beras dulu naik!”
Suara-suara itu saling bersahutan di tepian sungai.
Karung beras dipanggul bergantian. Dus bantuan diteruskan dari tangan ke tangan. Mahasiswa, anggota KNPI, hingga warga Long Lasan bahu-membahu mengangkat barang ke atas ketinting.

Sesekali terdengar tawa kecil ketika ada yang hampir terpeleset lumpur.
Meski lelah mulai terasa, tidak ada satu pun yang berhenti bekerja.
Ketinting itu bahkan harus bolak-balik hingga empat kali untuk mengangkut seluruh bantuan dan rombongan.
Suara mesin ketinting memecah suasana sore yang mulai gelap. Sungai yang tenang menjadi saksi bagaimana gotong royong masih hidup di tengah masyarakat pedalaman.
Sekitar pukul 16.00 WITA, seluruh bantuan akhirnya tiba di Kantor Desa Long Lasan yang saat itu difungsikan sebagai posko sementara pasca kebakaran.

Kedatangan rombongan langsung disambut hangat pemerintah desa dan warga setempat. Beberapa warga tampak menyalami satu per satu relawan yang datang.
Wajah-wajah lelah para pemuda itu perlahan berubah lega ketika melihat senyum masyarakat yang menerima bantuan.
Di ruangan sederhana kantor desa, seluruh rombongan kemudian duduk bersama. Tidak ada jarak antara mahasiswa, pemuda organisasi, aparat desa, maupun warga. Semua duduk dalam suasana kekeluargaan.

Ketua DPD KNPI Bulungan, Ir. Wanna Imanda, S.T., kemudian menyampaikan maksud kedatangan mereka.
“Hari ini kami datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga membawa semangat bahwa masyarakat Long Lasan tidak sendiri menghadapi musibah ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa bantuan tersebut merupakan hasil penggalangan dana yang dilakukan para pemuda selama beberapa hari terakhir.
“Mudah-mudahan apa yang kami bawa hari ini bisa sedikit membantu kebutuhan masyarakat,” katanya.
Ia juga menyadari bantuan tersebut tidak akan mampu menggantikan seluruh kerugian warga akibat kebakaran.
“Kami tahu ini tidak bisa mengganti semuanya. Tapi setidaknya semoga bisa meringankan beban dan menjadi tanda bahwa banyak orang peduli kepada masyarakat Long Lasan,” tambahnya.

Senada dengan itu, Ketua BEM Universitas Kaltara, Muhammad Ageng Ardy Al Amin menegaskan bahwa mahasiswa harus hadir di tengah masyarakat, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi kesulitan.
“Kampus tidak boleh jauh dari rakyat. Pemuda harus hadir dan memberi manfaat,” tuturnya.
Mendengar hal tersebut, Kepala Desa Long Lasan, Bernabas Ngau, S.E., tampak begitu tersentuh.
“Atas nama pemerintah desa dan seluruh masyarakat Long Lasan, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya,” ujarnya dengan suara pelan.
Ia mengaku perjalanan yang ditempuh rombongan bukan hal mudah.
“Kami tahu perjalanan ke sini jauh dan melelahkan. Tapi adik-adik semua tetap datang membantu masyarakat kami. Itu sesuatu yang sangat berarti,” katanya.
Ia kemudian menutup sambutannya dengan doa bagi seluruh relawan.
“Kiranya Tuhan Yang Maha Esa memberkati setiap langkah dan perjuangan adik-adik semua. Semoga segala usaha dan pendidikan yang dijalani diberikan kemudahan dan rezeki yang berlipat,” ucapnya.
Di sudut ruangan, salah seorang warga korban kebakaran tampak menahan haru ketika menerima bantuan.
“Terima kasih sudah datang sejauh ini membantu kami,” ucapnya singkat.

Sore itu, suasana di Long Lasan dipenuhi rasa hangat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di tengah bekas luka akibat kebakaran, hadir sekelompok anak muda yang datang membawa bantuan sekaligus harapan.
Menjelang malam, rombongan akhirnya berpamitan untuk kembali ke Tanjung Selor. Perjalanan pulang kembali dimulai dengan menyusuri sungai menggunakan ketinting sebelum melanjutkan perjalanan darat yang panjang.
Langit malam perlahan gelap. Jalanan mulai sepi. Tubuh lelah mulai terasa setelah hampir seharian penuh berada di perjalanan.
Namun di dalam kendaraan, obrolan kecil masih terdengar.
“Capek, tapi puas ya.”
“Iya, yang penting bantuan sudah sampai.”
Sekitar pukul 22.00 WITA, rombongan akhirnya tiba kembali di Tanjung Selor setelah menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam.

Malam itu, sebelum pulang ke rumah masing-masing, mereka kembali berkumpul sederhana. Tidak ada perayaan. Tidak ada tepuk tangan meriah. Hanya doa syukur yang dipanjatkan dalam keheningan malam.
Dan dari perjalanan panjang itu, ada satu hal yang tertinggal kuat dalam ingatan seluruh relawan: bahwa kepedulian tidak pernah mengenal jarak, medan, ataupun sulitnya perjalanan.
Selama masih ada hati yang tergerak untuk membantu, harapan akan selalu menemukan jalannya menuju mereka yang membutuhkan. (***/dni)





