Psikolog Kaltara Soroti Kerentanan Mental Remaja

redaksi

TANJUNG SELOR – Kondisi kesehatan mental remaja menjadi perhatian serius di tengah berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks. Remaja dinilai sebagai kelompok yang rentan mengalami tekanan emosional karena berada dalam fase perkembangan yang penuh perubahan, baik secara psikologis maupun sosial.

Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kalimantan Utara (Kaltara), Sulistyowati, sebagai salah satu Psikolog, mengatakan, kerentanan mental pada remaja perlu mendapat perhatian lebih dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar.

Menurutnya, berbagai kasus bunuh diri yang belakangan terjadi di Kaltara maupun sejumlah daerah lain di Indonesia, menjadi pengingat penting akan kondisi kesehatan mental remaja yang perlu ditangani secara serius.

“Bunuh diri pada remaja merupakan tragedi kesehatan mental yang kompleks, bukan berasal dari satu penyebab tunggal. Remaja bisa merasa sudah tidak memiliki jalan keluar lagi atas masalah yang dihadapinya,” ujarnya.

Baca juga  Realisasi APBN Tembus Rp 3,51 Triliun per Semester I Tahun 2023

Sulistyowati menjelaskan, remaja menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kesehatan mental mereka, mulai dari tekanan akademik, hubungan pertemanan, krisis identitas, hingga kekhawatiran terhadap masa depan. Jika tidak ditangani dengan baik, tekanan tersebut dapat menumpuk dan menimbulkan perasaan putus asa, tidak berdaya, serta kehilangan harapan.
Selain itu, sejumlah kondisi seperti depresi klinis, gangguan kecemasan, perasaan kesepian, dan kurangnya dukungan sosial juga dapat meningkatkan risiko munculnya masalah kesehatan mental pada remaja.

Baca juga  Dua Belas Lembaga di Kaltara Dibina Pengutamaan Bahasa Negara

Menurutnya, perkembangan saat ini, tak dipungkiri remaja lebih rentan mengalami gejolak emosi dibandingkan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh perkembangan otak yang belum sepenuhnya matang, khususnya pada bagian yang berfungsi mengatur logika dan kontrol diri.

“Pada remaja, bagian otak yang mengatur emosi berkembang lebih cepat dibandingkan bagian otak yang berfungsi mengatur logika dan kontrol diri. Akibatnya, remaja merasakan emosi lebih intens, lebih reaktif, dan rentan terhadap masalah identitas, penerimaan teman sebaya, serta kekhawatiran terhadap masa depan,” jelasnya.

Baca juga  "Chance & Challange buat Gen-Alpha di Era Digital", Yuks Ikuti Webinar Literasi Digital

Ia menambahkan, dukungan emosional yang kuat dari keluarga dan lingkungan menjadi faktor penting dalam membantu remaja menghadapi berbagai tekanan yang mereka alami. Selain itu, keberadaan ruang komunikasi yang aman dan akses terhadap layanan kesehatan mental juga perlu diperkuat.


Menurut Sulistyowati, semakin cepat tanda-tanda gangguan kesehatan mental dikenali dan ditangani, semakin besar peluang bagi remaja untuk memperoleh bantuan yang tepat dan menemukan cara yang sehat dalam menghadapi persoalan hidupnya. (wd26/nn)

Baca juga

Tags

Ads - Before Footer