TANJUNG SELOR, Penakaltara.Id – Suasana hening di Tanjung Selor pada Minggu pagi, 4 Mei 2025, berubah menjadi penuh makna ketika ratusan umat Buddha yang tergabung dalam Keluarga Besar Theravada Indonesia (KBTI) Kabupaten Bulungan berkumpul di Taman Makam Pahlawan Telabang Bangsa. Mereka melaksanakan Karya Bhakti membersihkan area makam, lalu menggelar doa bersama untuk mengenang jasa para pahlawan bangsa.

Kegiatan yang digelar menjelang peringatan Hari Raya Trisuci Waisak 2569 TB pada 12 Mei mendatang ini mengangkat tema “Kebijaksanaan Dasar Keluhuran Bangsa”, sebagai bentuk penghormatan kepada nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pejuang kemerdekaan.

Ketua KBTI Kabupaten Bulungan, Soepian, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata rasa terima kasih umat Buddha kepada para pahlawan.
“Kami ingin mengenang jasa para pahlawan, karena tanpa mereka, kita tidak akan merasakan kemerdekaan seperti hari ini. Ini bukan hanya kegiatan rutin, tapi bentuk penghormatan dan refleksi spiritual,” ujarnya.

Di bawah langit Tanjung Selor yang cerah, para peserta dengan penuh semangat membersihkan makam-makam pahlawan. Setelah itu, mereka melanjutkan dengan doa bersama, dipimpin oleh Samanera Subodhalankaro , sebagai bentuk dedikasi spiritual terhadap perjuangan para leluhur bangsa.
Samanera Subodhalankaro menjelaskan, “Kegiatan seperti ini memperkuat semangat ajaran Sang Buddha yang berpijak pada kebijaksanaan, cinta kasih, dan tanpa kekerasan. Semua itu harus berjalan seiring dengan semangat kebangsaan dan persatuan.”

Waisak tahun ini disebut sebagai momentum penting bagi umat Buddha di Kalimantan Utara, karena puncak peringatannya akan berlangsung pada 17 Mei 2025 di Kota Tarakan, bertepatan dengan peresmian Vihara Parama Sinar Borobudur. Vihara tersebut akan menjadi rumah ibadah terbesar di wilayah tersebut dan menyimpan Pratima Buddha Rupa tertinggi di Kalimantan Utara.
Ketua Panitia Waisak 2569 TB Kaltara, Hendy, menegaskan bahwa kehadiran vihara tersebut akan menjadi pusat pengembangan spiritual sekaligus simbol bersinarnya Dharma di bumi Kalimantan Utara.
“Vihara Parama Sinar Borobudur bukan sekadar tempat ibadah, tapi pusat spiritual yang membawa misi persaudaraan, kedamaian, dan cinta kasih lintas umat dan budaya,” ungkapnya.

KBTI Kalimantan Utara juga mengajak seluruh umat dan masyarakat umum untuk menjadikan Waisak sebagai momen mempererat toleransi dan kebersamaan, terutama dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
“Ajaran Sang Buddha sangat relevan untuk kehidupan berbangsa saat ini. Jika setiap warga negara menghayati cinta kasih dan kebijaksanaan, maka Indonesia akan menjadi bangsa yang damai dan sejahtera,” tambah Soepian.

Dengan semangat Waisak dan jiwa nasionalisme, kegiatan ini menjadi bukti bahwa ajaran Dharma dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan nilai-nilai Pancasila dan kebangsaan.
“Mari kita rawat Indonesia dengan cinta kasih, kebijaksanaan, dan kedamaian—seperti semangat para pahlawan dan ajaran Sang Buddha,” tutup Samanera Subodhalankaro . (dni/dni)
Penulis & Editor: Rachmad Rhomadhani, S.T












