“Dari War Takjil ke Hangatnya Kebersamaan: Ayahanda dan Bunda Kobat Menyulam Toleransi dan Sapa Pedagang Pasar Ramadhan”

redaksi

TANJUNG SELOR — Senja belum sepenuhnya jatuh ketika riuh langkah masyarakat mulai memenuhi Pasar Ramadhan di kawasan Gerai Z Ifthar, Senin (9/3/2026). Aroma gorengan yang mengepul, warna-warni minuman segar, hingga deretan kue tradisional seakan menjadi penanda bahwa bulan suci Ramadhan 1447 H tengah menghadirkan kehangatan tersendiri di ibu kota Kalimantan Utara itu.


Di tengah keramaian itu, hadir sosok yang langsung menyita perhatian para pedagang dan pengunjung. Ayahanda Kobat, Kilat bersama Bunda Kobat, Martina Kilat memimpin langsung Tim Komunitas Sahabat Kilat (KOBAT) dalam sebuah aksi sederhana namun penuh makna: War Takjil.
Aksi ini bukan sekadar berburu hidangan berbuka. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi wujud toleransi dan solidaritas sosial yang dibangun komunitas tersebut di momen Ramadhan.
Dengan senyum ramah, Ayahanda Kobat menyapa satu per satu pedagang yang berjejer di sepanjang lapak pasar. Tangan beliau sesekali menunjuk aneka jajanan khas Ramadhan—dari kue tradisional, gorengan hangat, hingga minuman segar berwarna cerah.

Baca juga  Wabup Bulungan Terpilih, Kilat, A.Md Bersama Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltara Silaturahmi ke Tokoh Tionghoa Sambut Imlek 2025


“Ramadhan itu bukan hanya soal ibadah, tapi juga tentang berbagi kebahagiaan dengan sesama,” ujar Ayahanda Kobat sambil memilih beberapa takjil dari salah satu pedagang.
Para penjual tampak antusias. Beberapa bahkan tak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen bersama Ayahanda dan Bunda Kobat.
“Senang sekali bisa foto bersama Ayahanda dan Bunda Kobat. Mereka datang membeli dagangan kami, rasanya seperti diberi semangat,” ungkap salah seorang pedagang dengan wajah sumringah.


Suasana pun semakin hangat. Tawa kecil pecah di sela percakapan ringan antara anggota komunitas dengan para pedagang. Kamera ponsel sesekali terangkat, menangkap momen kebersamaan yang lahir dari interaksi sederhana.
War Takjil itu juga menjadi kesempatan bagi Ayahanda dan Bunda Kobat untuk membeli berbagai jajanan khas yang hanya hadir di bulan suci Ramadhan. Beberapa di antaranya berupa lauk-pauk dan makanan tradisional yang nantinya akan dinikmati bersama saat berbuka puasa.

Baca juga  Jelang Bertugas sebagai Wabup Bulungan, Kilat, A.Md Gelar Ibadah Do'a Bersama di Ruang Kerjanya

Bunda Kobat, Martina Kilat, terlihat tak kalah aktif. Ia memilih beberapa takjil sambil berbincang dengan para penjual mengenai dagangan mereka.
“Ramadhan selalu membawa suasana yang hangat. Semoga kegiatan kecil seperti ini bisa membantu dan menyenangkan para pedagang,” tutur Martina Kilat.

Baca juga  Doa dan Syukur Mengiringi Langkah Pengabdian, Wabup Kilat Tempati Rumah Jabatan dengan Kebersamaan


Bagi Tim Komunitas Sahabat Kilat (KOBAT), War Takjil bukan sekadar tradisi musiman. Aksi tersebut menjadi cara mereka mendekatkan diri dengan masyarakat sekaligus menunjukkan bahwa kebersamaan dapat tumbuh dari hal-hal sederhana.
Di tengah hiruk-pikuk Pasar Ramadhan, langkah-langkah kecil itu terasa seperti menenun jalinan toleransi—menghubungkan komunitas, pedagang, dan masyarakat dalam satu semangat yang sama.


Dan ketika matahari mulai merunduk di ufuk barat, kantong-kantong berisi takjil yang dibawa pulang bukan hanya berisi makanan berbuka. Di dalamnya juga tersimpan cerita tentang kebersamaan, kepedulian, dan hangatnya solidaritas di bulan suci Ramadhan. (dni/kbt)

Baca juga

Tags

Ads - Before Footer