“Mama Tak Tergantikan: Di Balik Ibadah Syukur, Duka Itu Masih Tinggal—Doa-Doa di Malam Sunyi Mengantar Mama Sinan Tuban, Ditinggalkan Namun Tak Pernah Hilang”

redaksi

MALAM itu, langit seakan ikut merunduk, menyelimuti Rumah Jabatan Wakil Bupati Bulungan dengan keheningan yang sarat makna. Cahaya lampu yang terang pun tidak mampu menyembunyikan duka yang masih pekat terasa. Kamis (23/4/2026), keluarga besar berkumpul dalam sebuah ibadah syukur—bukan sekadar seremoni, melainkan ungkapan iman dan kerinduan atas kepergian sosok yang begitu dicintai: Almarhumah Mama Sinan Tuban.

Empat puluh hari telah berlalu sejak kepergian beliau “ke pangkuan Bapa di surga,” namun waktu seolah belum cukup untuk meredakan luka. Kesedihan itu masih hidup, berdenyut dalam hati setiap anggota keluarga yang ditinggalkan.

Wakil Bupati Bulungan, Kilat, A.Md, bersama sang istri Martina Kilat, S.Sos, berdiri di tengah keluarga dan jemaat dengan keteguhan yang tampak diuji. Hadir pula jemaat GKII Teluk Selimau, sanak saudara, serta Tim Komunitas Sahabat Kilat (Kobat), menyatukan hati dalam doa dan penghiburan.

Baca juga  Kilat,A.Md Hadiri Syukuran Tahun Baru di Desa Tengkapak: Ajak Masyarakat Bersatu untuk Pembangunan

Dalam suasana haru, Martina Kilat—yang akrab disapa Bunda Kobat—mengawali kesaksian dengan suara yang sesekali bergetar. Ia mengenang sosok almarhumah sebagai pribadi yang tak tergantikan.
“Mamak tidak pernah tergantikan… dan tidak pernah hilang,” ucapnya lirih. “Saya tahu, Tuhan akan memberi kekuatan itu.”

Kalimat sederhana itu menggantung di udara, menyentuh hati setiap orang yang hadir. Sebab dalam iman Nasrani, kehilangan bukanlah akhir—melainkan perpisahan sementara dalam pengharapan akan kehidupan kekal.

Baca juga  Gedung Oikumene Kantor Bupati Bulungan Diresmikan, Kilat, A.Md Hadir dan Berikan Apresiasi

Ibadah malam itu dipimpin dengan penuh penggembalaan oleh tim GKII Teluk Selimau. Nyanyian pujian yang dilantunkan terdengar seperti doa yang dipanjatkan dengan air mata. Setiap baitnya seakan menjadi pelukan bagi hati yang rapuh.

Bagi keluarga besar, momen 40 hari ini bukan sekadar penanda waktu. Ini adalah perjalanan batin—tentang belajar melepaskan, tentang mempercayakan yang terkasih sepenuhnya kepada Tuhan, dan tentang melanjutkan hidup dengan iman yang tetap teguh.

“Ini adalah ibadah… kami meminta dukungan doa dari semua,” ungkap salah satu anggota keluarga. Sebab mereka percaya, dalam kebersamaan dan doa, Tuhan bekerja menghadirkan penghiburan.

Baca juga  Kagum akan keindahan Lamin Guntur Ecolodge, Martina Kilat - Istri wakil bupati bulungan : “Bisa jadi inspirasi untuk Bulungan”

Meski secara manusia, duka tak terelakkan, malam itu menjadi bukti bahwa kasih Tuhan tetap menyertai. Di tengah air mata, ada pengharapan. Di tengah kehilangan, ada kekuatan yang perlahan tumbuh.

Dan di balik keheningan malam Tanjung Selor, doa-doa yang dipanjatkan menjadi jembatan—menghubungkan kerinduan di bumi dengan damai sejahtera di surga. (***/dni)

Baca juga

Tags

Ads - Before Footer