TANJUNG SELOR – Dalam upaya menyusun Project Strategi Komunikasi yang komprehensif, berbasis data, dan tepat sasaran, tim SPEAK Indonesia bersama Pengelola Program Tingkat Daerah (Provincial Project Implementation Unit/PPIU) Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) Kalimantan Utara (Kaltara) menyelenggarakan serangkaian kegiatan pengumpulan informasi (scoping research).
Rangkaian kegiatan ini berlangsung maraton melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD), serta penggalian data lapangan yang melibatkan pemangku kepentingan kunci di tingkat provinsi hingga tokoh masyarakat di tingkat desa.
Pemetaan Narasi dan Kebijakan di Tingkat Provinsi
Pada Kamis (16/7/2026), tim melakukan serangkaian audiensi dan wawancara di Tanjung Selor bersama sejumlah instansi strategis Pemerintah Provinsi Kaltara serta mitra pembangunan, di antaranya:
Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kaltara: Menggali saluran komunikasi efektif berbasis komunitas serta kelembagaan desa pesisir.
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara: Memetakan narasi tata kelola kawasan pesisir, isu perlindungan ruang laut, serta mata pencaharian nelayan.
Dinas Kehutanan Kaltara: Menyelaraskan pesan kunci terkait pelestarian ekosistem mangrove, tata kelola kawasan hutan, dan perhutanan sosial.
GGGI (Global Green Growth Institute) Kaltara: Memperkuat substansi narasi mengenai pembangunan hijau (green growth) dan kolaborasi berkelanjutan.
Kolaborasi Akademisi, Pengelola Program, dan Suara Masyarakat Desa
Selain jajaran dinas teknis, penggalian data strategis pada Selasa (14/7/2026) melibatkan jajaran akademisi dari Universitas Borneo Tarakan (UBT) untuk memperkuat basis riset dan konteks ilmiah lokal, serta diskusi mendalam bersama Manager PPIU M4CR Kaltara guna memastikan keselarasan visi dan arah kebijakan program.
Guna memastikan strategi komunikasi yang dirancang tidak hanya menjawab kebutuhan tingkat atas (top-down), tetapi juga sensitif terhadap kearifan lokal (bottom-up), tim juga menyerap aspirasi langsung dari Kelompok Masyarakat (Pokmas).
”Awalnya kita mengira mangrove hanya rumput pesisir biasa. Namun kini kita tahu: air jadi lebih adem, tanggul tak lagi tergerus abrasi, dan udang serta kepiting tumbuh jauh lebih subur. Menjaga mangrove adalah menjaga piring nasi kita bersama,” ujar Pak Anas Tahir, Ketua Pokmas Tunas Abadi Jaya.
Apresiasi terhadap program edukasi juga disampaikan oleh narasumber lokal lainnya. “Melalui sekolah lapang, kami dapat pengetahuan baru—ternyata mangrove itu bisa dimanfaatkan jadi sirup hingga bahan tinta batik,” tutur Pak Alimuddin, Ketua Pokmas Tanjung Kars.
Tak hanya itu, pada Rabu (15/7/2026), penyerapan informasi lapangan diperkuat hingga ke wilayah pesisir Kabupaten Tana Tidung (KTT). Tim melakukan wawancara mendalam bersama tokoh masyarakat di Desa Sambungan, Kecamatan Tana Lia. Wawancara ini bertujuan untuk memahami dinamika lokal, bahasa media yang efektif, kearifan lokal dalam menjaga ekosistem pesisir, serta tantangan saluran komunikasi di wilayah pulau atau desa terpencil.
Komitmen Komunikasi Publik yang Inklusif
Hasil dari rangkaian scoping research lintas sektor ini akan diolah menjadi dokumen Project Strategi Komunikasi M4CR Kaltara. Dokumen ini akan menjadi panduan utama dalam penyebarluasan informasi, edukasi publik, pemetaan media, hingga pembentukan pesan kunci yang partisipatif.
Melalui pendekatan yang inklusif ini, program M4CR Kaltara diharapkan tidak hanya sukses secara teknis pemulihan ekosistem mangrove, tetapi juga mampu menggerakkan kesadaran dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat Kalimantan Utara. (*)






