Tantangan Geografis Hingga Diusir Warga, Target Sensus Ekonomi 100%‎

redaksi

Petugas sensus ekonomi di Bulungan melakukan pendataan. (FOTO:Ist)

‎TANJUNG SELOR – Pelaksanaan Sensus Ekonomi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Bulungan, 15 Mei hingga 31 Agustus mendatang, kini memasuki tahap akhir.

‎Kepala BPS Kabupaten Bulungan, Yuda Agus Irianto, mengingatkan, capaian pendataan di lapangan telah hampir menyentuh angka 100 persen. Meski demikian, pencapaian tersebut tidak diraih dengan mudah.


‎”Petugas pendata di lapangan harus berhadapan dengan berbagai tantangan berat, mulai dari kondisi geografis wilayah Bulungan yang sulit hingga dinamika sosial dengan warga setempat. Keterbatasan jumlah personel juga memaksa BPS melakukan pembagian wilayah kerja secara presisi agar seluruh area dapat terjangkau,” terangnya.

‎Ia menjelaskan, suatu tantangan, untuk kawasan pesisir hingga pemukiman di bantaran sungai memerlukan waktu tempuh ekstra serta biaya operasional yang tidak sedikit.

‎”Kita mengalami sebuah tantangan yang perlu kita genjoti agar mendapatkan pendataan pada tiap rumah ke rumah, hal itu yang kami berupaya membuka akses anggaran agar terciptanya warga setempat atau lokal dapat menjadi anggota sensus,” ujarnya (5/8/2026).

‎Tantangan tak kalah berat justru datang dari respon sebagian masyarakat. Masih ada warga yang enggan memberikan informasi karena salah paham, mengira sensus ini berkaitan dengan penarikan pajak atau pendataan bantuan sosial (DTKS/DTSEN).

‎”Padahal, pendataan ini murni dilakukan untuk memetakan gambaran riil perekonomian daerah. Selain itu, banyak pelaku usaha mandiri seperti pedagang daring via WhatsApp yang belum menyadari bahwa aktivitas mereka termasuk dalam kriteria kegiatan ekonomi yang wajib didata.” tutupnya.

‎Miskonsepsi di tengah masyarakat ini tak jarang memicu kejadian tak menyenangkan bagi para pencacah di lapangan. Salah satu insiden pahit dialami Wiwid, petugas sensus yang bertugas di wilayah Bulungan. Ia justru menghadapi sebuah penolakan keras.

‎”Saya mengalami perlakuan tidak menyenangkan berupa pengusiran hingga cacian dari warga setempat,” ungkapnya.

‎Itu menjadi salah satu contoh nyata hambatan mental dan operasional yang harus dihadapi para petugas di lapangan demi menyajikan data yang akurat. Namun hal tersebut telah ditindak lanjutkan oleh pihak BPS Bulungan, mengambil jalan keluarnya.

‎”Setelah saya melapor hal tersebut, Akhirnya BPS Bulungan menerapkan strategi pemberdayaan warga lokal sebagai mitra statistik. Langkah ini dinilai efektif karena warga setempat lebih menguasai bahasa daerah serta mengenali kondisi medan,” terangnya.

‎BPS Kabupaten Bulungan mengimbau seluruh masyarakat untuk menyambut baik kedatangan petugas sensus dan memberikan data yang jujur apa adanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Data yang akurat dari masyarakat akan menjadi pondasi utama bagi pemerintah daerah dalam merancang arah kebijakan, dan pembangunan ekonomi Kabupaten Bulungan yang lebih baik di masa depan. (wd26/nn)

Baca juga  Pasar Rakyat Terbengkalai, Disperindagkop Bulungan Susun Rencana Baru

Baca juga

Tags