Tak Menyerah pada Keterbatasan, Penyandang Disabilitas Berjuang Lewat Batik

redaksi

Membatik di Galeri Batik Tiga Ale “Leto” Disabilitas, Kabupaten Bulungan. (FOTO:Yohanes/PENA KALTARA)

TANJUNG SELOR – Keterbatasan fisik tak menghalangi penyandang disabilitas di Kabupaten Bulungan untuk berkarya. Melalui Galeri Batik Tiga Ale “Leto” Disabilitas, yang terletak di jalan Sengkawit Gang Cempaka Putih, Tanjung Selor. Mereka mulai memproduksi dan menjual kain batik hasil karya sendiri.

Kegiatan ini berawal dari pelatihan membatik yang diberikan Dinas Sosial Kabupaten Bulungan. Setelah pelatihan, para penyandang disabilitas yang memiliki minat membatik sepakat untuk melanjutkan kegiatan tersebut.

Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kabupaten Bulungan, Anastasia Onikein, mengatakan awalnya mereka hanya mencoba. Hasil batik pertama pun belum memuaskan.

“Pertama kami buat, agak kecewa. Belum tahu warna dan cara-caranya. Tapi lama-lama kami terus mencoba, hasilnya mulai bagus,” ujarnya.

Baca juga  Ombudsman Kaltara Soroti Layanan Transportasi Mudik, APAR Belum Terkalibrasi hingga Ruang Tunggu Terminal Dinilai Kurang Nyaman

Kini, kelompok batik disabilitas tersebut sudah berjalan sekitar tiga bulan sekaligus mulai memasarkan produknya. Anggotanya sekitar 10 orang. Dalam proses produksi, mereka saling membantu. Penyandang disabilitas dengan kondisi berbeda ikut mengambil bagian, mulai dari membatik, mewarnai, menjemur hingga merebus kain.

Namun, cuaca menjadi salah satu kendala. Proses pengeringan kain membutuhkan panas matahari. Ketika hujan, produksi harus dihentikan sementara. Jika kondisi cuaca mendukung, mereka bisa menghasilkan sekitar dua hingga tiga kain dalam sehari.

Pemasaran, batik dipromosikan melalui WhatsApp, TikTok dan kegiatan-kegiatan pemerintah. Produk juga mulai mendapat perhatian dari sejumlah dinas di lingkungan Pemkab Bulungan.

Baca juga  "Resmi Berlaku, Retribusi Parkir di Tepi Jalan Umum di Bulungan Tingkatkan PAD dan Ketertiban Lalu Lintas, Tahap Awal Dilakukan Sosialisasi"

Salah satu kain dengan panjang sekitar 2,7 meter dijual sekitar Rp300 ribu, tergantung motif dan tingkat kesulitan pembuatannya.

Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial Bulungan, Karuniati Tigai, mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan memberikan keterampilan, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi penyandang disabilitas.

“Kami berharap ini berkembang, dengan dukungan pemerintah, swasta dan lembaga lain, mereka bisa semakin mandiri,” katanya.

Ke depan, Dinas Sosial juga mendorong semakin banyak penyandang disabilitas yang memiliki minat membatik untuk bergabung. Bagi Anastasia, dukungan dari pemerintah dan masyarakat sangat penting agar usaha tersebut terus berjalan.

Baca juga  Wooo!!! Pengunjung Benuanta Fest 2K24 Diprediksi Capai 80 Ribu Orang Tiap Malam

“Walaupun batik kami belum seperti yang lain, kami tetap semangat dan memberikan yang terbaik untuk pelanggan,” pungkasnya. (ve26/nn)

Baca juga

Tags