‎Genggam Kemudi di Tengah Sepinya Sungai Kayan

redaksi

Salah satu pekerja tambangan ( perahu penyeberangan) melayani para penumpang di Tanjung Selor. (FOTO: Yohanes/PENA KALTARA)

‎TANJUNG SELOR – Dermaga Kayan V, Tanjung Selor. Matahari siang menusuk papan kayu dermaga. Di atas kapal kayu yang bergoyang pelan, Martin mengencangkan tali tambat. Motor-motor yang baru naik masih meneteskan air sungai. Penumpang hanya lima orang.

‎“Dulu, kapal ini nggak sempat dingin mesinnya,” katanya sambil menyeka keringat.

‎Martin sudah menggenggam kemudi kapal penyeberangan di rute ini sejak tahun 2000. Dua puluh lebih tahun ia mengantar orang, motor, dan barang menyeberang Sungai Kayan antara Tanjung Selor dan Bulu Perindu. Dulu, sehari bisa 12 kali bolak-balik. Pagi belum terang, antrean sudah panjang. Sore hari, kapal terakhir sering penuh sesak.

‎“Sekarang, kalau ramai ya 6 kali ke sini, 6 kali ke sana. Itu juga kalau ada penumpang,” ujarnya pelan.

‎Perubahan itu datang sejak jembatan Bulu Perindu–Tanjung Palas dibuka. Jalan darat memotong waktu tempuh. Penumpang kapal langsung menyusut. Dari seratus persen, kata Pak Martin, yang tersisa mungkin hanya 15 sampai 20 persen.

‎Saat ini yang masih memilih kapal biasanya punya alasan praktis. Buruh, pedagang, tukang bangunan. Mereka membawa barang yang lebih cepat kalau lewat sungai. Tarifnya pun masih sama seperti dulu: Rp5.000 untuk orang, Rp10.000 untuk motor, kecil besar sama saja.

Baca juga  Kondisi Jalan Memprihatinkan di Selimau 3, Warga Harapkan Tindakan dari Pemerintah dan Perusahaan

‎‎Di balik dermaga biru yang sepi itu, ada 35 orang yang pernah menggantungkan hidup dari kapal penyeberangan ini. Kini, yang masih aktif hanya sekitar 9 orang. Sisanya sudah mencari kerja sampingan.

‎“Kalau kondisinya terus begini, ya cari kerja sampingan juga,” kata Martin singkat.

‎Ia sendiri belum mau turun. Masih ada harapan kecil yang ia titipkan ke pemerintah.

‎“Supaya tambangan nggak kehilangan mata pencarian. Kalo bisa jalan Meranti sama Bulu Perindu itu satu jalur Boleh masuk ke kota Keluarnya lewat KM2,” harapanya

‎Hingga sore turun, kapal kayu di Dermaga Kayan V masih menunggu. Menunggu penumpang yang belum sepenuhnya pindah ke jembatan. Menunggu suara mesinnya kembali ramai seperti dulu.(ve26/nn)

Baca juga  Pernikahan Dini Masih Jadi Pemicu Anak Putus Sekolah di Bulungan

Baca juga

Tags