TANJUNG SELOR – Dibalik ramainya lapak buah musiman di pinggir Tepian Sungai Kayan salah satunya yang berada di Jl.Soedirman, Tanjung Selor, tersimpan kisah perjuangan seorang ibu yang tak pernah lelah mencari nafkah untuk keluarganya. Sejak 2019, Mariana (53) memilih berjualan buah musiman demi membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya.
Perempuan yang telah dikaruniai empat orang anak itu sebelumnya hanya sebagai ibu rumah tangga. Dari rumah, ia sempat membuka usaha sembako kecil-kecilan sebelum akhirnya mencoba peruntungan dengan menjual buah musiman di pinggir jalan.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, buah musiman memiliki peminat yang cukup banyak saat musim panen tiba sehingga menjadi peluang untuk menambah penghasilan keluarga.
”Kalau lagi musim, pembelinya lumayan ramai. Jadi kami memilih jual buah musiman karena memang banyak yang mencari,” ujar Mariana saat ditemui, Selasa (28/7).

Dari hasil berjualan itulah, Mariana mampu membantu membiayai pendidikan anak-anaknya. Dua dari empat anaknya telah berkeluarga, sementara dua lainnya masih menempuh pendidikan. Putri Latifah Hanum saat ini sedang kuliah, sedangkan Rizky Aditya masih duduk di bangku SMA.
Baginya, penghasilan dari berjualan buah bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi sumber utama biaya pendidikan anak.
”Yang penting bisa membantu anak kuliah dan kebutuhan sehari-hari di rumah,” tuturnya.
Meski demikian, pendapatan yang diperoleh tidak selalu sama. Omzet bergantung pada ramainya pembeli dan musim buah yang sedang berlangsung.
”Kalau lagi ramai, alhamdulillah hasilnya lumayan. Kalau lagi sepi ya dijalani saja,” katanya.
Saat ini, buah yang paling banyak dicari pembeli adalah durian lokal, elai, rambutan, dan duku. Berbagai jenis durian dijual, mulai dari durian susu hingga durian dengan warna daging oranye dan merah muda. Namun, menurut Mariana, durian lokal atau durian susu masih menjadi favorit masyarakat.
Harga buah pun bervariasi, tergantung ukuran dan kualitasnya. Semakin besar ukuran buah, semakin tinggi pula harga jualnya.
Di balik semangatnya berjualan, Mariana juga menghadapi sejumlah kendala. Cuaca menjadi tantangan terbesar karena hujan kerap membuat pembeli berkurang. Selain itu, para pedagang di lokasi tersebut hanya diperbolehkan mulai berjualan pada sore hingga malam hari.
”Kalau hujan memang jadi kendala. Kami juga baru boleh berjualan sekitar jam dua atau jam tiga sore,” ungkapnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Mariana tetap bersyukur bisa menjalankan usahanya tanpa dikenakan biaya berjualan. Ia berharap usaha kecil yang dirintisnya terus berjalan agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi dan pendidikan anak-anaknya dapat diselesaikan hingga tuntas.
Bagi Mariana, setiap buah yang terjual bukan sekadar menghasilkan uang, tetapi juga menjadi harapan agar masa depan anak-anaknya bisa lebih baik melalui pendidikan. (ve26/nn)






