TANJUNG SELOR – Keputusan perpanjangan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar dari Rumah (BDR) hingga 5 September 2026 membuat aktivitas belajar mengajar di SMKN 1 Tanjung Selor harus tetap berlangsung secara dalam jaringan (Daring). Meski sistem pembelajaran dari rumah ini bukan hal yang baru bagi pihak sekolah, sejumlah kendala teknis dan kedisiplinan masih kerap ditemui di lapangan, terutama dari sisi kesiapan para siswa.

Wakil Kepala SMK Negeri 1 Tanjung Selor Bidang Kurikulum, Totok Nadi Hermanto, mengungkapkan, salah satu kendala utama yang paling sering dihadapi selama masa BDR adalah keterbatasan kuota internet. Kondisi ini menyebabkan kehadiran siswa dalam pembelajaran virtual tidak bisa maksimal.
“Paling ini, anak-anak ini kan banyak yang belum siap kuota. Makanya tidak semua BDR yang saya lihat 100 persen di kelas, di Zoom. Itu salah satu kendalanya, kendala teknis,” ujar Toto saat ditemui di SMKN 1 Tanjung Selor, Kamis (3/9/2026).
Selain urusan kuota internet yang cepat habis, kendala lain yang menjadi sorotan pihak sekolah adalah masalah kedisiplinan. Sebagian siswa terkadang menganggap BDR seperti masa liburan, sehingga mereka sering bangun lebih lambat dan tidak siap mengikuti kelas pada pagi hari.
“Teknisnya itu dari siswa. Ya, kuota itu terutama. Kemudian anak-anak ini kalau sudah BDR tuh bangunnya agak lama. Ya, tahu nggak sekolah, ya lambat bangun itu,” tambahnya.
Para guru memutar otak dan menerapkan sejumlah trik agar proses belajar tetap efektif. Salah satu siasatnya dengan tidak menyampaikan seluruh materi pembelajaran melalui pertemuan Zoom. Guru mengombinasikan zoom dengan penggunaan Google Drive untuk memberikan materi dan penugasan, serta memanfaatkan grup WhatsApp kelas untuk komunikasi sehari-hari.
“Memang tidak semua disampaikan saat Zoom. Karena memang ada drive yang kita siapkan untuk penugasan. Di grup WA kan selalu komunikasi teman-teman, grup WA kelas,” jelasnya.
Trik lainnya yang diterapkan guru untuk menghemat kuota siswa adalah dengan membatasi durasi tatap muka virtual. Sesi Zoom dibatasi minimal sekitar 45 menit saja.
“Zoom itu minimal 45 menit. Nanti off dulu, kasih penugasan. Nanti habis itu Bapak/Ibu guru ngecek. Mungkin sejauh berikutnya baru nge-Zoom lagi sesuai jadwal yang ada,” terannya.
Sebagai contoh, jika satu mata pelajaran memiliki empat jam pelajaran, sebagian waktu akan dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas mandiri, dan guru akan kembali melakukan pengecekan setelahnya.
Mengatasi siswa kesiangan, sekolah menerapkan trik pengawasan berlapis dengan melibatkan orang tua. Toto menyebutkan guru sudah bersiap sejak pukul 07.30 pagi dan langsung memberikan pengumuman di grup kelas.
“Persiapan 07.30 sudah. Disampaikan di grup dulu, Anak-anak, kita jam 07.45 sudah masuk Zoom ya. Silakan siap-siap,” ucapnya.
Agar pengawasan lebih maksimal, sekolah juga menjalin komunikasi intensif dengan wali murid.
“Kalau sama orang tua, aman. Karena kita WA grup di paguyuban orang tua itu kan ada. Ada grup khusus siswa, grup khusus orang tua,” tegasnya.
Meskipun harus menghadapi berbagai tantangan, Toto memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan lancar. Para guru tetap datang ke sekolah dan mengajar dari ruangan yang dirasa nyaman.
Meski semua siasat daring sudah dijalankan dengan baik, ia tak menampik, ada satu hal yang sulit digantikan dari pembelajaran tatap muka, yakni interaksi dan canda tawa antarsiswa secara langsung.
“Kalau sudah nge-Zoom kan paling ceritaan di online begitu kan. Nah, apa asyiknya?” pungkasnya. (ve26/nn)












