TANJUNG SELOR – Ada cerita yang tak selalu mampu disampaikan dengan kata-kata di balik dinding Panti Jompo Tresna Werdha Marga Rahayu, Tanjung Selor. Di usia senja, sebagian para lansia harus menjalani hari-hari jauh dari keluarga, ditemani keterbatasan fisik, ingatan yang mulai memudar, serta kebutuhan akan perhatian dan kasih sayang.

Sabtu (19/9/2026), suasana itu sedikit berbeda. Kehadiran Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Kabupaten Bulungan membawa kehangatan di tengah kehidupan para Oma dan Opa yang tinggal di panti tersebut. Bukan sekadar datang membawa bantuan, rombongan KPPI hadir untuk menyapa, mendengarkan, memeluk suasana kesepian, sekaligus membangkitkan kembali semangat para lansia.
Aksi bakti sosial dalam rangka berbagi kasih itu dipimpin langsung Ketua KPPI Kabupaten Bulungan, Martina Kilat, S.Sos., bersama pengurus dan anggota KPPI. Kedatangan mereka disambut hangat. Satu per satu lansia diajak berbincang. Ada yang tersenyum, ada yang bercerita, dan ada pula yang hanya terdiam menikmati perhatian yang diberikan.

Martina memilih tidak sekadar menyerahkan bingkisan lalu pergi. Ia mendatangi para lansia, duduk bersama mereka dan melihat langsung kondisi tempat tinggal mereka, khususnya Wisma Kasih Sayang. “Kedatangan kita ke panti ini untuk berbagi kasih sekaligus melihat langsung keberadaan Oma dan Opa di sini. Kita ingin melihat bagaimana kondisi mereka dan apa saja yang masih menjadi kebutuhan,” ujar Martina.
Di panti tersebut terdapat 33 lansia, termasuk delapan orang yang berada di Wisma Kasih Sayang. Sebagian membutuhkan pendampingan lebih intensif karena keterbatasan aktivitas akibat usia, termasuk kondisi demensia.

Bagi Martina, melihat kondisi tersebut secara langsung menghadirkan keprihatinan sekaligus dorongan untuk melakukan sesuatu. Ia masuk melihat kondisi wisma, memperhatikan tempat tidur, perabot dan berbagai kebutuhan para penghuni. Dari kunjungan tersebut, masih ditemukan sejumlah sarana dan prasarana yang membutuhkan perhatian.
“Kalau kita melihat kondisinya, memang masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi. Ada perabot dan perlengkapan tidur yang perlu diganti. Ke depan kita akan bergerak cepat dan berkoordinasi dengan Dinas Sosial serta Pak Wakil Bupati untuk menindaklanjuti kebutuhan yang ada,” katanya.

KPPI Bulungan juga membawa bingkisan untuk para lansia. Di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla yang masih menyelimuti sejumlah wilayah, masker turut diberikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan para penghuni panti.
Namun, hari itu yang paling terasa bukanlah isi bingkisan. Melainkan kehadiran. Sapaan sederhana, duduk bersama, mendengarkan cerita dan menggenggam tangan para lansia menjadi bentuk perhatian yang mungkin sangat berarti bagi mereka.
Sebab, di usia ketika tubuh mulai melemah dan ingatan perlahan berubah, perhatian dari orang lain dapat menjadi penguat bahwa mereka masih diperhatikan dan tidak dilupakan. Perwakilan pengurus panti, Youlce menyampaikan rasa terima kasih atas kunjungan KPPI Bulungan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada KPPI. Kebetulan hari ini kita bisa bersilaturahmi dan KPPI juga sudah melihat langsung Wisma Kasih Sayang. Oma dan Opa memang perlu perhatian khusus,” ujar Ince.

Ia juga mengapresiasi kepedulian KPPI terhadap kondisi sarana dan prasarana panti yang masih membutuhkan perhatian dan tindak lanjut.
“Kami sangat berterima kasih atas bantuan dan perhatian yang diberikan. Termasuk kepedulian terhadap sarana dan prasarana yang ada di sini,” tambahnya.
Menjelang akhir kegiatan, suasana yang sebelumnya terasa haru perlahan berubah. KPPI Bulungan mengajak para lansia bernyanyi dan menari bersama.
Musik mengalun. Para pengurus dan anggota KPPI ikut bergembira bersama para Oma dan Opa. Senyum mulai terlihat. Tawa pun pecah di antara mereka.

Para lansia tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi diajak menjadi bagian dari kebersamaan. Mereka diajak menikmati waktu, bergerak mengikuti irama, bernyanyi dan merasakan kembali suasana penuh kegembiraan.
Keceriaan itu menjadi penutup yang mengharukan dari sebuah kunjungan sederhana.
KPPI Bulungan ingin menunjukkan bahwa berbagi kasih bukan hanya tentang apa yang diberikan, tetapi tentang bagaimana seseorang hadir dan membuat orang lain merasa berarti.

Martina dan jajaran KPPI pun berharap perhatian terhadap para lansia tidak berhenti pada satu kunjungan. Kebutuhan mereka, terutama di Wisma Kasih Sayang, akan terus dikomunikasikan kepada pihak terkait agar dapat memperoleh perhatian dan tindak lanjut.

Sebab, di balik wajah-wajah yang telah menua, ada perjalanan hidup yang panjang. Ada kenangan, ada perjuangan, dan ada hati yang tetap membutuhkan kasih sayang.
Dan pada Sabtu itu, KPPI Bulungan datang membawa satu pesan sederhana: para Oma dan Opa tidak sendiri.
Mereka masih memiliki orang-orang yang peduli, yang mau datang, duduk bersama, mendengarkan cerita, menggenggam tangan mereka, lalu mengajak mereka tersenyum kembali. (dd)












