‎Dari Retret ke Akar Kehidupan, 74 Kades Menanam Harapan di Kebun Raya

redaksi

Bupati Bulungan Syarwani bersama para kepala desa melakukan penanaman pohon simbolis dalam rangkaian Retreat Kepala Desa se-Kabupaten Bulungan Tahun 2026 di Kebun Raya Bunda Hayati, Hutan Kota Bundayati, Rabu (22/7/2026). (FOTO:Yohanes/PENA KALTARA)

‎TANJUNG SELOR – Rangkaian Retreat Kepala Desa se-Kabupaten Bulungan Tahun 2026 tidak hanya diisi diskusi dan penguatan kapasitas kepemimpinan. Sebagai penutup kegiatan, sebanyak 74 kepala desa menanam 74 jenis pohon buah lokal dan tanaman endemik di kawasan Kebun Raya Bunda Hayati, Hutan Kota Bunda Hayati, Rabu (22/7/2026). Aksi tersebut menjadi simbol komitmen menjaga lingkungan sekaligus mewariskan harapan bagi generasi mendatang.



‎Bupati Bulungan, Syarwani, mengatakan penanaman pohon bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk kepedulian bersama terhadap keberlangsungan Kebun Raya Bunda Hayati sebagai aset milik seluruh masyarakat Bulungan.

‎”Keberadaan Kebun Raya Bunda Hayati dengan luas sekitar 86 hektare bukan milik pemerintah daerah, tetapi milik seluruh masyarakat Kabupaten Bulungan. Hari ini hal itu tercermin dengan kehadiran 74 kepala desa yang masing-masing membawa pohon buah dari desanya untuk ditanam di sini,” katanya.

‎Setiap desa membawa satu jenis tanaman buah lokal maupun tanaman endemik dari wilayahnya masing-masing. Salah satu yang menjadi perhatian adalah buah Lapeu, tanaman khas yang ditetapkan sebagai maskot Kebun Raya Bunda Hayati.

‎”Selain berbagai jenis buah-buahan lokal, ada juga tanaman endemik Bulungan. Buah Lapeu menjadi salah satu yang ditanam karena merupakan maskot Kebun Raya Bunda Hayati,” ujarnya.

‎Menurutnya, seluruh tanaman yang ditanam akan dirawat secara berkelanjutan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebun Raya di bawah Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Pemeliharaan dilakukan melalui pembersihan kawasan dan perawatan rutin agar tanaman dapat tumbuh optimal.

‎Ia menyebut jumlah tanaman yang ditanam mencapai 74 jenis, menyesuaikan dengan jumlah desa di Kabupaten Bulungan. Harapannya, keberagaman tanaman tersebut dapat memperkaya koleksi flora sekaligus menjadi identitas daerah.

‎Tak hanya berfokus pada pengembangan flora, Pemkab Bulungan juga mulai memperkuat ekosistem fauna di kawasan tersebut. Sebelumnya, Balai Karantina Tarakan telah menyerahkan sekitar 30 spesies burung endemik yang kini dilepasliarkan di Kebun Raya Bunda Hayati.

‎”Ke depan bukan hanya flora yang kita kembangkan, tetapi juga fauna. Nantinya kita pikirkan pengembangan satwa khas Bulungan lainnya seperti rusa maupun jenis satwa endemik lainnya,” jelasnya.

‎Syarwani menambahkan, UPT pengelola Kebun Raya Bunda Hayati telah dibentuk dan regulasi pendukung melalui peraturan daerah juga telah disahkan. Pemerintah menargetkan pengelolaan kawasan itu semakin optimal mulai 2027.

‎”Mudah-mudahan mulai tahun 2027 pengelolaannya semakin optimal. Kita juga mengajak seluruh masyarakat ikut menjaga Kebun Raya ini karena manfaatnya kembali kepada masyarakat, termasuk sebagai ruang terbuka untuk olahraga dan aktivitas publik,” pungkasnya. (ve26/nn)

Baca juga  Wabup Bulungan Semarakkan Bangen Tawai Lepa Ajeu, Komitmen pada Petani dan Budaya Lokal Menguat

Baca juga

Tags