Wabup Kilat Dorong Petani Bulungan Naik Kelas, Sawit dan Kakao Harus Beri Nilai Tambah serta Tingkatkan Kesejahteraan

redaksi

TANJUNG SELOR – Pengembangan perkebunan di Kabupaten Bulungan tidak boleh berhenti pada peningkatan produksi. Lebih dari itu, petani harus memiliki pengetahuan, keterampilan, akses, serta kemampuan mengelola hasil pertanian agar mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi keluarga dan daerah.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Bupati Bulungan, Kilat, A.Md., saat membuka Sosialisasi Budidaya Tanaman Perkebunan Kelapa Sawit dan Kakao Tahun 2026 yang digelar Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan di Balai Desa Jelarai, Kecamatan Tanjung Selor, Senin (14/9/2026).

Kilat menilai, Bulungan memiliki potensi perkebunan yang besar. Namun, potensi lahan dan sumber daya tersebut harus diimbangi dengan kemampuan petani dalam mengelolanya secara tepat, produktif, dan berkelanjutan.

Menurutnya, luas lahan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan usaha perkebunan. Pengetahuan dalam memilih benih, mengolah lahan, melakukan penanaman, pemupukan, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit, hingga proses panen dan pascapanen menjadi bagian penting yang menentukan hasil akhir. “Jangan sampai kegiatan ini berhenti pada pemahaman secara teori, tetapi harus berlanjut menjadi praktik dan perubahan nyata dalam pengelolaan kebun,” tegas Kilat.

Ia mengatakan, komoditas kelapa sawit dan kakao memiliki peluang untuk terus dikembangkan sebagai salah satu sumber penggerak ekonomi masyarakat. Karena itu, petani didorong tidak berhenti belajar dan harus terbuka terhadap teknologi maupun inovasi dalam pengelolaan perkebunan.
Kilat berharap sosialisasi tersebut tidak sekadar menjadi forum penyampaian materi, tetapi benar-benar dimanfaatkan sebagai ruang bertukar pengalaman antara petani, penyuluh, dan tenaga teknis.

Baca juga  Hangatnya Safari Natal di Sekatak: Wabup Kilat Disambut Penuh Sukacita, Pesankan Damai dan Persaudaraan

Ia pun mengajak para peserta aktif menyampaikan persoalan yang dihadapi di lapangan agar dapat dicari solusi bersama. “Silakan berdiskusi dengan narasumber dan penyuluh, sampaikan berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan, dan gali sebanyak mungkin pengetahuan yang dapat diterapkan secara nyata,” pesannya.

Salah satu pesan utama yang ditekankan Kilat adalah pentingnya perubahan pola pikir dalam mengelola usaha tani. Petani, kata dia, tidak cukup hanya mampu menghasilkan komoditas. Mereka juga perlu memahami bagaimana meningkatkan efisiensi, produktivitas, kualitas, hingga nilai tambah produk sehingga hasil perkebunan dapat memberikan pendapatan yang lebih baik.

Khusus kakao, kualitas hasil tidak hanya ditentukan dari proses budidaya. Penanganan saat panen dan pascapanen juga menjadi faktor penting yang dapat menentukan kualitas biji sekaligus nilai jualnya.

Karena itu, Kilat berharap petani Bulungan secara bertahap dapat keluar dari posisi sebagai sekadar penghasil bahan baku dan mulai mengambil peran lebih besar dalam rantai nilai agribisnis. “Ke depan, kita tidak ingin petani hanya menjadi penghasil bahan baku, tetapi secara bertahap mampu menjadi bagian dari rantai nilai agribisnis yang memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat,” katanya.

Baca juga  Bupati Bulungan Syarwani Dilantik sebagai Ketua IKA SMAN 1 Tanjung Selor Periode 2025–2030

Untuk mewujudkan hal tersebut, penguatan kelembagaan kelompok tani dinilai menjadi salah satu fondasi penting. Kelompok tani yang aktif dan solid akan memperkuat akses petani terhadap informasi, teknologi, sarana produksi, pembiayaan hingga pemasaran. Dengan kelembagaan yang kuat, petani juga akan lebih mudah membangun kerja sama dan mengembangkan usaha secara bersama-sama.

Di tengah upaya meningkatkan produktivitas perkebunan, Kilat mengingatkan agar pengembangan komoditas tetap memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan.

Pemanfaatan lahan harus dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian tata ruang, kelestarian lingkungan, serta keberlanjutan produktivitas lahan. Menurutnya, lahan yang dikelola hari ini bukan hanya untuk kepentingan generasi sekarang, tetapi juga menjadi bagian dari masa depan generasi berikutnya. “Pembangunan perkebunan harus mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan,” ujarnya.

Pemkab Bulungan, lanjutnya, akan terus mendorong pembangunan sektor pertanian dan perkebunan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan petani, penyediaan sarana dan prasarana sesuai kemampuan daerah, serta pengembangan komoditas yang memiliki potensi ekonomi dan sesuai dengan kondisi wilayah.

Baca juga  Pemkab Bulungan Ajak Perkuat Kebersamaan dan Kerukunan Melalui Safari Natal di Bunyu, Wabup : "Safari Natal adalah Cerminan Sukacita Bersama”

Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan seluruh pihak. Karena itu, Kilat meminta Dinas Pertanian dan para penyuluh memperkuat pendampingan kepada petani secara berkelanjutan. “Petani membutuhkan pendampingan yang dekat dengan kondisi nyata di lapangan, sehingga setiap permasalahan dapat segera diidentifikasi dan dicarikan solusi bersama,” katanya.

Kilat berharap hasil dari sosialisasi tidak berhenti ketika kegiatan berakhir. Pengetahuan yang diperoleh harus diterapkan di kebun, dievaluasi, kemudian dikembangkan menjadi praktik yang mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani.

Sebab, perkebunan yang maju tidak hanya diukur dari banyaknya hasil yang dipanen, tetapi juga dari seberapa besar hasil tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan petani tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan. “Saya berharap setelah mengikuti sosialisasi ini, para peserta dapat membawa pulang pengetahuan yang bermanfaat dan menerapkannya di lapangan,” pungkas Kilat. (DKIP_Bulungan)

Baca juga

Tags