Asah Skill Menulis, Menghidupkan Mangrove Lewat Cerita

redaksi

Suara diskusi terdengar hangat, sesaat pelatihan menulis digelar bagi Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Suasana ruang belajar itu mempertemukan orang-orang dengan latar berbeda, dari birokrat hingga pegiat lingkungan, duduk bersama, membuka catatan, dan mulai merangkai kata. Ada satu kesamaan di antara mereka, keinginan untuk membuat mangrove tidak hanya tumbuh di pesisir, tetapi juga hidup dalam cerita.


Selama dua hari, 15–16 April 2026, KKMD Kaltara bersama Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) menggelar pelatihan penulisan dan publikasi lingkungan. Pesertanya beragam, mulai dari organisasi perangkat daerah, pengelola hutan desa, mitra pembangunan, hingga insan media, semuanya datang dengan pengalaman lapangan masing-masing.

Di ruang itu, satu kesadaran perlahan menguat, menjaga mangrove tidak cukup dilakukan dengan menanam dan merawat. Kisah tentangnya juga perlu disampaikan, agar lebih banyak orang tahu, peduli, dan ikut bergerak.

Baca juga  KIHI Tanah Kuning – Mangkupadi, ‘Jurus Jitu’ Berau Agar Bergabung ke Kaltara, Akankah Tergoda ?

Perwakilan KKMD, Najib, yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Pengelolaan Ruang Laut, menyebut, isu mangrove membutuhkan jembatan komunikasi yang kuat. Menurutnya, kerja-kerja di lapangan sering kali tidak terdengar luas karena tidak dikemas dalam narasi yang mudah dipahami.“Isu mangrove tidak bisa berdiri sendiri. Ia perlu dukungan komunikasi dan kolaborasi agar benar-benar sampai ke masyarakat,” ujarnya saat membuka kegiatan.

Pelatihan ini dirancang tidak sekadar menyampaikan teori. Peserta diajak mengasah keterampilan menulis secara langsung, mulai dari mencari ide, menentukan sudut pandang, hingga mengolah data dan pengalaman menjadi cerita yang menarik.

Baca juga  Dua WNA Bawa 23 Kg Sabu Ditangkap di Kaltara, Sempat Lompat ke Laut

Narasumber dari KPH Tarakan dan Persatuan Wartawan Indonesia berbagi pengalaman praktis, termasuk bagaimana sebuah isu lingkungan bisa “hidup” di media.Diskusi berlangsung cair, di sela-sela sesi, peserta mulai menyadari bahwa mereka sebenarnya menyimpan banyak cerita, tentang upaya rehabilitasi mangrove, dinamika di lapangan, hingga praktik baik yang jarang terdengar.

Hanya saja, cerita-cerita itu selama ini belum tersusun dalam bentuk tulisan yang bisa menjangkau publik lebih luas.Pelatihan ini menjadi titik awal perubahan, dari sekadar pelaku menjadi pencerita. Bagi KKMD, penguatan kapasitas ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan bagian dari upaya memperkuat peran sebagai ruang koordinasi pengelolaan mangrove di daerah. Dukungan M4CR turut membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, mempertemukan berbagai pihak dalam satu tujuan bersama.

Baca juga  Universitas Kaltara Gelar Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Petugas Tambahan

Namun, yang paling penting, kegiatan ini menegaskan satu hal sederhana, perubahan tidak hanya terjadi di pesisir, tetapi juga di ruang-ruang narasi. Ketika mangrove ditulis dengan baik, ia tidak lagi sekadar pohon di tepi laut, melainkan cerita tentang kehidupan, ketahanan, dan masa depan.Dari Kaltara, cerita-cerita itu kini mulai dituliskan. Perlahan, ia menyebar menghubungkan pengalaman, menguatkan kesadaran, dan mungkin, menggerakkan lebih banyak orang untuk ikut menjaga yang tersisa, sekaligus menghidupkan kembali yang sempat hilang. (**)

Baca juga

Tags

Ads - Before Footer