TANJUNG SELOR — Suasana berbeda terasa di SD Negeri 015 Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, pada Rabu pagi. Kegiatan belajar mengajar yang biasanya berlangsung rutin, hari itu menjadi lebih istimewa dengan kehadiran Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, yang datang langsung untuk menyaksikan praktik pendidikan inklusif. Tidak hanya itu, Wakil Bupati Bulungan, Kilat, juga turut hadir dan bahkan ikut berbaur bersama siswa dalam proses pembelajaran di kelas.

Di ruang kelas 3, Gita Kamath dan Kilat tampak duduk berdampingan dengan para siswa, mengamati sekaligus ikut membantu mereka menyelesaikan tugas. Kehadiran keduanya bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi bagian dari upaya memahami secara langsung bagaimana pendekatan pendidikan inklusif diterapkan di tingkat sekolah dasar.
Guru di kelas tersebut terlihat aktif memberikan pendampingan kepada setiap siswa secara personal. Metode pengajaran disesuaikan dengan kemampuan, minat, dan kebutuhan masing-masing anak. Hal ini memungkinkan seluruh siswa, termasuk anak berkebutuhan khusus, dapat mengikuti pembelajaran dengan nyaman dan optimal tanpa merasa tertinggal.

Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah penggunaan Profil Belajar Siswa (PBS). Melalui alat ini, guru dapat memetakan karakteristik setiap murid secara lebih mendalam. Data yang dihasilkan kemudian digunakan untuk merancang strategi pembelajaran yang fleksibel dan tepat sasaran.
“Saya sangat terkesan dengan pendekatan di sini. Para guru benar-benar memahami bahwa setiap anak itu unik, dan mereka mampu menyesuaikan metode belajar agar semua siswa bisa berkembang,” ujar Gita Kamath saat ditemui usai kunjungan kelas.
Ia menilai bahwa praktik ini mencerminkan komitmen kuat dari pemerintah daerah dan tenaga pendidik dalam menghadirkan sistem pendidikan yang adil dan inklusif. Menurutnya, memahami kebutuhan individu siswa merupakan kunci utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.

Kehadiran Wakil Bupati Bulungan, Kilat, dalam kegiatan tersebut turut memperkuat komitmen pemerintah daerah. Ia tidak hanya menyaksikan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan siswa dan guru, menunjukkan dukungan nyata terhadap implementasi pendidikan inklusif di daerahnya.
“Pendidikan inklusif adalah prioritas kami. Setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar dan berkembang tanpa diskriminasi. Ini bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga investasi masa depan daerah,” tegas Kilat.
Kunjungan ini merupakan bagian dari kerja sama antara Indonesia dan Australia melalui Program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) yang telah berjalan sejak 2017. Program ini awalnya berfokus pada peningkatan literasi dasar, namun kini berkembang menjadi penguatan sistem pendidikan inklusif di berbagai daerah, termasuk Bulungan.
Gita juga memberikan apresiasi terhadap pemanfaatan data dalam mendukung pendidikan. Data digunakan untuk menentukan intervensi yang tepat, seperti penyediaan kacamata bagi siswa yang membutuhkan serta dukungan pembelajaran lainnya. Selain itu, keterlibatan orang tua juga dinilai sebagai faktor penting dalam keberhasilan program ini.
“Ketika sistem pendidikan dirancang berdasarkan kebutuhan anak, hasilnya tidak hanya meningkatkan akses, tetapi juga kualitas pembelajaran secara keseluruhan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala SD Negeri 015 Tanjung Selor, Warsiyah, menjelaskan bahwa pihak sekolah secara rutin menggunakan data dari PBS serta asesmen kompetensi membaca untuk merancang pembelajaran yang inklusif dan adaptif.
Sejak dimulainya kerja sama dengan Program INOVASI, Pemerintah Kabupaten Bulungan telah melakukan berbagai upaya strategis, mulai dari pelatihan guru, penyediaan bahan ajar, hingga pendampingan khusus bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar. Program ini kini telah menjangkau ratusan sekolah dengan dukungan berbagai sumber pendanaan, termasuk APBD, dana BOS, dan sektor swasta.
Kilat juga menambahkan bahwa sistem pendidikan inklusif yang dibangun terbukti tangguh saat pandemi COVID-19. Bulungan mampu meminimalkan dampak kehilangan pembelajaran serta mempercepat proses pemulihan pendidikan pascapandemi.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Bulungan berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi pendidikan. Rencana tersebut mencakup pembelajaran yang lebih fleksibel, integrasi layanan kesehatan anak, hingga pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan. Selain itu, pelatihan bahasa isyarat bagi aparatur sipil negara mulai diperkenalkan guna mendukung pelayanan publik yang lebih inklusif.
Kunjungan Wakil Duta Besar Australia ini menjadi simbol kuat kolaborasi internasional dalam membangun sistem pendidikan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga mampu menjangkau seluruh anak tanpa terkecuali, termasuk di wilayah terpencil seperti Bulungan. (DKIP_Bulungan)





