TANJUNG SELOR – Sore perlahan turun di tepian Sungai Kayan. Sinar matahari yang mulai meredup memantul di permukaan air yang mengalir tenang, sementara suara riuh anak-anak memecah suasana. Gelak tawa, teriakan saling menyapa, dan bunyi percikan air menjadi harmoni khas yang hampir setiap hari terdengar di salah satu sudut ibu kota Kalimantan Utara itu.
Bagi sebagian orang, sungai mungkin hanya aliran air yang membelah kota. Namun bagi anak-anak Tanjung Selor, Sungai Kayan adalah lebih dari itu. Ia adalah arena bermain, tempat berkumpul, sekaligus “kolam renang alam” yang menghadirkan kebahagiaan tanpa harus mengeluarkan biaya.
Saat jarum jam mendekati petang, satu per satu anak mulai berdatangan. Ada yang berjalan kaki dari rumah, ada pula yang datang berkelompok sambil membawa pakaian ganti seadanya. Mereka berlari menuju tepian, lalu tanpa ragu melompat ke dalam air yang terasa sejuk setelah seharian cuaca panas menyelimuti kota.
Di antara mereka, terdapat Amal (10), bocah yang hampir setiap hari menghabiskan waktu sore di sungai bersama teman-temannya.
“Sering, hampir setiap sore. Kalau panas cuacanya mandi di sungai sini. Kalau hujan jarang mandi di sungai,” ujarnya sambil tersenyum saat ditemui di tepian Sungai Kayan, Sabtu (13/6/2026).
Bagi Amal dan teman-temannya, bermain di sungai memberikan kesenangan yang sulit digantikan oleh permainan lain. Tidak ada gawai, tidak ada tiket masuk, tidak ada aturan rumit. Yang ada hanyalah kebebasan bermain bersama, tertawa, dan menikmati masa kecil mereka.
“Kalau mandi di sini seru sama teman-teman,” katanya singkat.
Ucapan sederhana itu menggambarkan bagaimana kebahagiaan anak-anak sering kali hadir dari hal-hal yang paling sederhana. Di tengah perkembangan teknologi dan maraknya permainan digital, mereka masih menemukan kegembiraan lewat alam yang terbentang di depan mata.
Setiap sore, pemandangan ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitar. Warga yang melintas sudah terbiasa melihat anak-anak berenang, bermain kejar-kejaran di air, atau sekadar duduk di tepian sungai sambil bercengkerama.
Meski demikian, ada aturan tak tertulis yang selalu diingatkan orang tua kepada anak-anak mereka. Bermain boleh, asalkan tahu waktu untuk pulang.
“Orang tua tidak marah kalau pulang sebelum magrib. Marah kalau pulang bajunya basah,” ujar Amal sambil tertawa, menggambarkan candaan yang sering ia dengar di rumah.
Di balik canda itu, tersimpan perhatian orang tua yang ingin anak-anak tetap menikmati masa kecilnya namun tetap berada dalam pengawasan.
Sungai Kayan memang telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Tanjung Selor. Selain menjadi jalur transportasi dan sumber penghidupan bagi sebagian warga, sungai ini juga menjadi ruang sosial yang mempertemukan banyak orang dalam aktivitas sehari-hari.
Namun, di balik keindahan dan keseruannya, Sungai Kayan tetap menyimpan risiko yang tidak boleh diabaikan. Arus sungai yang sewaktu-waktu dapat berubah, kondisi cuaca yang tidak menentu, hingga faktor keselamatan lainnya menjadi perhatian berbagai pihak.
Pemerintah daerah sendiri tidak pernah mengeluarkan larangan mutlak bagi warga untuk mandi atau bermain di Sungai Kayan. Meski demikian, aparat keamanan seperti Polresta Bulungan secara berkala terus mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di sekitar sungai.
Imbauan tersebut bukan tanpa alasan. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama, terutama bagi anak-anak yang sering menghabiskan waktu bermain di tepian sungai tanpa menyadari potensi bahaya yang ada.
Meski begitu, selama matahari masih bersinar dan waktu magrib belum tiba, Sungai Kayan akan tetap menjadi saksi masa kecil anak-anak Tanjung Selor. Tempat di mana mereka belajar berteman, berbagi tawa, dan menikmati kebebasan yang sederhana.
Di tengah keterbatasan fasilitas rekreasi yang tersedia, sungai ini menjadi ruang bermain yang tak pernah sepi. Sebuah tempat yang mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dibeli, karena terkadang ia hadir begitu saja, mengalir bersama arus Sungai Kayan. (ve26/dd)






