TANJUNG SELOR – Kasus influenza atau penyakit pernapasan di Tanjung Selor menunjukkan peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Sebanyak 342 kasus tercatat di Puskesmas Tanjung Selor hanya dalam kurun 17 hari, sejak 21 September hingga 6 Oktober 2026. Lonjakan tersebut terjadi bersamaan dengan kondisi kualitas udara di Tanjung Selor yang kembali memburuk akibat kabut asap dalam beberapa hari terakhir.

Kepala UPTD Puskesmas Tanjung Selor, Catrice Sheyang, mengatakan keluhan terkait infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) masuk dalam 10 besar penyakit yang banyak ditemukan berdasarkan pencatatan September 2026.
“Kalau untuk kasusnya tercatat dari tanggal 21 kemarin sampai dengan hari kemarin (Rabu 6/10/2026), itu sejumlah 342 untuk influenza atau penyakit pernapasan lah,” kata Catrice saat diwawancarai Pena Kaltara, Rabu (7/10/2026).
Peningkatan keluhan pernapasan mulai terlihat sejak memasuki pekan ketiga September. Jika dibandingkan dengan kondisi pada awal September, jumlah kasus mengalami kenaikan sekitar 1,5 kali hingga hampir dua kali lipat.
“Jadi bisa dikatakan mungkin ya sekitar hampir dua kali lipatnya ya, 1,5 kali lipatnya dari awal September,” ujarnya.
Angka tersebut menjadi perhatian karena dalam waktu 17 hari jumlah kasus sudah mendekati total kasus selama satu bulan sebelumnya. Sepanjang September 2026, Puskesmas Tanjung Selor mencatat sekitar 432 kasus influenza atau penyakit pernapasan. Sementara sejak 21 September hingga 6 Oktober, tercatat 342 kasus. Dalam 17 hari, jumlah kasus mencapai sekitar 79 persen dari total kasus sepanjang September. Kondisi ini menunjukkan adanya tren peningkatan keluhan penyakit pernapasan di Tanjung Selor.
Kelompok usia produktif menjadi kelompok yang paling banyak mengalami keluhan tersebut. Sementara anak-anak dan lansia masing-masing berada di kisaran 25 persen dari kasus yang tercatat.
Selain influenza atau penyakit pernapasan, sejumlah penyakit lain juga masuk dalam daftar keluhan yang banyak ditemukan di Puskesmas Tanjung Selor. Diantaranya batuk, tekanan darah tinggi, dispepsia atau gangguan lambung, myalgia atau nyeri otot, diare, serta infeksi pada rongga gigi.
Catrice mengatakan peningkatan keluhan pernapasan tidak serta-merta disebabkan oleh satu faktor. Kondisi kesehatan masyarakat juga dapat dipengaruhi pola makan, pola hidup, waktu istirahat, hingga daya tahan tubuh. Namun, memburuknya kualitas udara menjadi salah satu perhatian, terutama ketika kabut asap kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.
“Yang selain itu juga bisa istirahatnya kurang, mungkin makannya tidak teratur. Itu pun juga daya tahan tubuhnya juga melemah akibat dari kebiasaan atau pola hidup yang kurang sehat itu tadi sih sebenarnya,” jelasnya.
Puskesmas Tanjung Selor mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan selama kualitas udara belum membaik. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah juga disarankan menggunakan masker dan mengurangi kegiatan di luar ruangan.
“Kalau dalam kondisi cuaca yang kurang bagus ya, gunakan masker kalau memang terpaksa harus bepergian keluar, kemudian kurangi dulu aktivitas luar ruangan kalau memang kualitas udara masih belum membaik,” pungkasnya. (ve26/nn)












