TANJUNG SELOR – Kualitas udara di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), yang sebelumnya sempat dalam kategori tidak sehat akibat asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), kini mulai membaik.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Stasiun Meteorologi (Stamet) Tanjung Harapan, konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di Tanjung Selor pada Jumat (25/9/2026) pukul 08.00 WITA tercatat 29,9 µg/m³ atau berada dalam kategori Sedang.
Perubahan tersebut menunjukkan kondisi kualitas udara saat ini lebih baik dibandingkan pemantauan sebelumnya. Meski demikian, keberadaan asap masih terpantau di Tanjung Selor.Forecaster on Duty Stamet Tanjung Harapan, Agus Ariyanto, mengatakan, masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi udara, terutama kelompok yang sensitif terhadap paparan partikulat.
“Kalau konsentrasi partikulat mengalami peningkatan, masyarakat yang sensitif sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan,” kata Agus.
Selain kondisi kualitas udara, BMKG juga mencatat masih adanya titik panas di Kaltara. Data terbaru, terdapat 12 hotspot, dengan 11 titik berada di Bulungan dan satu titik di Kabupaten Nunukan.
“Keberadaan hotspot tersebut menjadi perhatian karena kondisi cuaca yang relatif cerah pada pagi hingga siang hari dapat membuat permukaan lahan lebih mudah kering. Potensi tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya titik api apabila tidak disertai pengawasan dan pencegahan di lapangan,” jelasnya.
Sementara itu, cuaca di sejumlah wilayah Bulungan pada Jumat diprakirakan cerah hingga cerah berawan pagi sampai siang hari. Berawan hingga hujan ringan berpotensi terjadi pada malam hingga dini hari.
Potensi hujan ringan diprakirakan juga Tanjung Palas Utara, Peso Hilir, Peso, Bunyu, Tanjung Palas Timur, Tanjung Selor, Tanjung Palas, Tanjung Palas Barat, dan Tanjung Palas Tengah. Suhu udara secara umum diprakirakan berada pada kisaran 22–33 derajat Celsius.
Masyarakat tetap ddihimbau untuk menjaga kewaspadaan meskipun kualitas udara saat ini sudah berada pada kategori Sedang. Masyarakat juga diminta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, termasuk pembakaran lahan maupun sampah secara terbuka.
“Gunakan masker apabila diperlukan, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan saat kondisi asap kembali meningkat,” pungkasnya. (ve26/nn)












