TANJUNG SELOR — Penutur bahasa daerah di kalangan generasi muda terus menghadapi tantangan di tengah perkembangan zaman dan penggunaan bahasa dalam ruang digital. Kondisi itu mendorong Pemerintah Kabupaten Bulungan memperkuat upaya pelestarian Bahasa Bulungan, Dayak, dan Tidung melalui lingkungan sekolah.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bulungan pada 5–6 Oktober 2026. Kegiatan ini melibatkan sebanyak 70 peserta dari jenjang SD dan SMP.
Festival tersebut tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan rasa bangga dan percaya diri anak dalam menggunakan bahasa daerah. Penggunaan bahasa ibu juga diharapkan semakin hidup, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bulungan, Suparmin, mengatakan pelestarian bahasa daerah penting dilakukan agar generasi penerus tidak kehilangan identitas budaya di tengah perubahan zaman.
“Melestarikan budaya daerah supaya anak-anak kita sebagai generasi penerus itu tidak tergerus dengan perubahan modernisasi,” ujarnya, Senin (5/10/2026).
FTBI diharapkan dapat melahirkan lebih banyak penutur bahasa daerah, khususnya Bahasa Dayak, Tidung, dan Bulungan di Kabupaten Bulungan. Selain kemampuan berbahasa, kegiatan tersebut juga menjadi sarana membangun motivasi dan rasa bangga anak terhadap bahasa daerahnya masing-masing.
“Adanya Festival Tunas Bahasa Ibu, diharapkan ke depan banyak penutur-penutur bahasa daerah, bahasa Dayak, bahasa Tidung, dan Bulungan ada di Bulungan,” katanya.
Suparmin menilai perkembangan era digital menjadi salah satu tantangan dalam penggunaan bahasa di kalangan anak-anak. Karena itu, penggunaan bahasa daerah perlu terus didorong agar tetap menjadi bagian dari keseharian generasi muda.
“Mungkin bisa supaya anak-anak tidak terpengaruh dengan bahasa-bahasa yang kurang pas, dengan bahasa daerahnya kan masih bisa kita dorong, ya,” tuturnya.
Pelestarian bahasa daerah juga mulai dilakukan melalui pembelajaran muatan lokal di sekolah. Namun, penerapannya belum mencakup seluruh sekolah di Kabupaten Bulungan. Suparmin menjelaskan, penerapan pembelajaran bahasa daerah mempertimbangkan kondisi dan keberadaan komunitas penutur di masing-masing wilayah.
“Sekarang ini kan sudah berjalan, memang belum semua sekolah. Setiap daerah kan ada komunitas-komunitas bahasanya, ya. Kita upayakan,” katanya.
Melalui penguatan pembelajaran sekaligus kegiatan seni dan sastra, pemerintah berharap bahasa daerah tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan festival, tetapi tetap digunakan dalam kehidupan sehari-hari. (ve26/nn)












