‎Dokter Spesialis Minim, RSUD Tanjung Selor Masih Rujuk Pasien ke Tarakan dan Berau

redaksi

Direktur RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, dr. Widodo Darmo Sentoso.

‎TANJUNG SELOR – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan masih merujuk sejumlah pasien ke rumah sakit di Tarakan dan Berau, Kalimantan Timur. Hal itu diketahui keberadaan dokter spesialis masih minim.
‎
‎Meski begitu, jumlah pasien yang dirujuk menunjukkan tren penurunan. Pada Juni 2026 tercatat 44 pasien, kemudian turun menjadi 42 pasien pada Juli dan 36 pasien pada Agustus.
‎
‎Direktur RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo, dr. Widodo Darmo Sentoso, mengatakan, jumlah tersebut relatif kecil dibandingkan total pasien yang dilayani rumah sakit. Pada Agustus, dari lebih 9.000 pasien rawat jalan dan rawat inap, hanya 36 pasien yang dirujuk atau sekitar 3,9 per mil.
‎
‎”Ini artinya tren rujukan itu sebenarnya cenderung menurun ya, kalau bulan Juni 44 orang, bulan Juli 42 orang, bulan Agustus hanya 36 orang,” ujar Widodo, Selasa (3/11).
‎
‎Ia menjelaskan, rujukan paling banyak berkaitan dengan persiapan hemodialisa atau cuci darah dan penanganan kasus ortopedi. Pelayanan cuci darah, RSUD Tanjung Selor sebenarnya sudah mampu melayani pasien secara mandiri. Namun, persiapan tindakan tertentu masih membutuhkan dokter konsultan ginjal dan hipertensi yang berbasis di Tarakan.
‎
‎Sementara itu, rumah sakit belum memiliki dokter spesialis bedah ortopedi. Karena itu, pasien yang membutuhkan penanganan khusus pada tulang dan sistem gerak harus dirujuk ke rumah sakit lain, di antaranya ke Tarakan dan RS Abdul Rivai di Berau.
‎
‎Dari kedua daerah tersebut, Tarakan menjadi tujuan rujukan yang lebih sering dipilih karena waktu tempuh lebih singkat.
‎
‎”Ke Tarakan lebih sering, meskipun beberapa kasus juga kita rujuk ke Berau. Biasanya lebih ke Tarakan, karena pertimbangan jarak, waktu tempuh itu ke Tarakan lebih cepat,” jelasnya.
‎
‎Mengurangi rujukan, pihak rumah sakit menyiapkan dokter spesialis melalui program pendidikan dengan dukungan pemerintah daerah dan kerja sama perusahaan. Di antaranya pendidikan dokter spesialis ortopedi serta peningkatan kompetensi pelayanan hemodialisa.
‎
‎Widodo berharap, setelah pendidikan selesai dan para dokter kembali bertugas, kemampuan pelayanan rumah sakit semakin meningkat sehingga lebih banyak pasien dapat ditangani di Tanjung Selor.
‎
‎Ia menambahkan, fasilitas pemeriksaan diagnostik di RSUD Tanjung Selor secara umum sudah memadai. Namun, keterbatasan dokter dengan kompetensi tertentu masih menjadi kendala untuk memberikan penanganan medis hingga tuntas.
‎
‎”Jadi secara umum untuk kemampuan rumah sakit mendiagnosis tuntas, ini sudah bisa, hanya terapi definitifnya atau terapi yang tuntas, kadang-kadang beberapa bagian merujuk karena keterbatasan dokter spesialisnya,” pungkasnya. (ve26/nn)

Baca juga  Gapensi Diminta Jadi Mitra Aktif Pemerintah Bulungan

Baca juga

Tags