Strategi Antisipasi Dampak Resesi Global

redaksi

Oleh:
Dr. Arif Jauhar Tontowi
Dosen Pascasarjana Univ. Muhammadiyah Berau

Pada tanggal 27 Maret 2023 yang lalu, saya sempat diminta menjadi narasumber pada acara Kaltara Bicara yang ditayangkan TVRI Kalimantan Utara. Persoalan yang diangkat terkait isu resesi ekonomi di tahun 2023 beserta dampak dan cara menghadapinya bagi masyarakat di Kaltara. Anda masih bisa menyaksikan live streaming-nya melalui link Youtube di bagian akhir dari rangkaian acara pada tanggal tersebut. 

Mengingat isu ini dirasa masih perlu untuk diketahui dan disikapi dengan bijak oleh banyak orang jika memang benar-benar akan terjadi, saya kembali menyampaikannya dalam naskah khutbah Idul Fitri tanggal 21 April di Masjid Ar Rahman Tanjung Selor dengan judul, menyikapi isu resesi global tahun 2023. Namun pembahasannya lebih banyak menggunakan pendekatan keagamaan walaupun masih dikuatkan dengan analisis secara saintifik.

Setelah melalui dua kanal tersebut saya menyampaikan buah pikiran, rasanya masih perlu untuk menurunkan dalam tulisan melalui koran ini agar bisa lebih banyak diketahui masyarakat. Utamanya bagi para pembaca yang belum sempat mengikuti ulasan saya baik melalui layar kaca maupun ceramah Idul Fitri. Oleh karena itu saya coba ulas kembali menjadi tulisan singkat ini. 

 Resesi ekonomi global menjadi isu menguat setelah tahun lalu Presiden Joko Widodo dan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Kristalina Georgieva mengingatkan, bahwa di tahun ini adalah tahun sulit. Situasi berada di bawah bayang-bayang pertumbuhan negatif ekonomi dunia sehingga berpotensi akan terjadi resesi ekonomi secara global dan tidak menutup kemungkinan juga akan melanda negeri kita, Indonesia.

Sinyal kesulitan ekonomi menunjukkan, sebagian besar negara-negara di dunia sedang menghadapi krisis energi, minyak, gas dan keuangan. Pergerakan mata uang dan nilai tukar mengalami fluktuasi yang tidak menentu. Indonesia mengalami penurunan nilai tukar diangka minus 7, Jepang minus 25, RRT minus 13 dan Philipina minus 15. Inflasi negara-negara besar dan adi daya di atas 10%. Sebanyak 340 juta orang di 82 negara mengalami krisis pangan parah. Sebanyak 19.700 orang meninggal setiap hari karena kelaparan. Itu adalah gambaran terkini yang menandakan bakal terjadi gelombang resesi ekonomi. 

Baca juga  PELAYANAN PUBLIK; STABILISASI HARGA & KETERSEDIAAN BARANG

Belum sembuh luka dunia dibantai pandemi Covid 19, kini dihadapkan ancaman resesi ekonomi global. Lalu bagaimana sikap kita menghadapi isu resesi dunia tersebut?

Kita harus tetap berpikir positif. Yakinlah bahwa badai pasti berlalu, karena tidak ada yang abadi di dunia ini. Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik buat mahkluk yang diciptakanNya. Di balik setiap cobaan atau ujian sesungguhnya Tuhan ingin mengangkat ke derajat yang lebih tinggi. Setiap cobaan yang datang sesungguhnya Tuhan hendak membersihkan dosa-dosa dan kekeliruan dalam mengatur dunia. Lalu mengembalikan manusia pada posisi yang mulia. 

Setelah menguatkan mental kita agar tidak menggoyahkan keyakinan dalam menghadapi cobaan isu resesi global, lalu langkah nyata apa yang harus dilakukan? Secara ilmiah kita bisa melakukan analisis untuk menemukan stratetgi menghadapinya. 

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), resesi merupakan kondisi di mana perekonomian suatu negara sedang memburuk, yang terlihat dari produk domestik bruto (PDB) negatif, pengangguran meningkat, dan pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut. Situasi seperti ini akan membuat masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya. Harga-harga kebutuhan sehari-hari relatif menjadi mahal. Persediaanya pun menjadi terbatas. Hal ini disebabkan kegiatan industri mengalami penurunan hasil produksi atau bahkan berhenti tutup karena tidak mampu lagi menjalankan kegiatan usahanya. Oleh karena itu diperlukan strategi khusus menghadapinya agar tetap bisa bertahan hidup relatif normal. 

 Dalam ilmu manajemen, untuk merumuskan strategi bisa dilakukan dengan cara menganalisis berbasis kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunies) dan ancaman (thraits) yang di kenal dengan akronim SWOT Analysis. Kekuatan kita adalah, bangsa berketuhanan yang disatukan oleh idiologi Pancasila, negara besar kaya sumber daya alam, dan memiliki posisi geografis strategis. Kelemahannya adalah, kemandirian dan daya saing SDM, digitalisasi, sistem keuangan, korupsi, dan kepastian hukum. Peluangnya adalah, menjadi produsen besar industri hijau dan pasar potensial domestik maupun internasional. Ancamannya adalah, imperialisme ekonomi dan budaya asing, bayang-bayang boneka politik (kekuasaan) para cukong, dan narkotika/narkoba.

Baca juga  Mendulang Cuan dari Limbah Medis

Berdasarkan hasil analisis SWOT tersebut, maka kita dapat merumuskan beberapa strategi sebagai langkah mitigasi risiko atas kemungkinan dampat negatif yang ditimbulkan, yaitu:

Strategi SO (Strengths-Opportunities) yaitu, strategi yang harus dapat menggunakan kekuatan untuk meraih peluang yang ada. Yakni: Kolaborasi penguatan keimanan dan pemahaman agama dalam menghadapi cobaan. Hilirisasi industri berbasis ekonomi hijau dengan mengutamakann faktor-faktor produksi lokal untuk pasar domestik dan internasional. Komersialisasi posisi geografis strategis Indonesia dalam arus perdagangan internasional.

Strategi WO (Weaknesses-Opportunities) yaitu, strategi menguatkan kelemahan untuk meraih peluang yang ada. Yakni: Hilangkan ketergantungan terhadap asing dengan membangun kemandiri ekonomi hijau dan digitalisasi UMKM dalam ekonomi kerakyatan (dari rakyat, oleh rakyat untuk rakyat). Gerakan literasi keuangan, anti korupsi dan penegakkan hukum.

Strategi ST (Strenghts-Thraits) yaitu, strategi memberdayakan kekuatan guna mengatasi ancaman yang mungkin timbul. Yakni: Penguatan moderasi beragama, idiologi Pancasila dan rasa nasionalisme untuk menangkal imperialism ekonomi dan budaya asing, serta bayang-bayang cukong politik dan peredaran narkotika/narkoba. 

Strategi WT (Weaknesses-Thraits) yaitu, strategi yang bertujuanenguatkan kelemahan untuk meminimalkan dampak dari ancaman yang ada. Yakni: Penguatan karakter bangsa yang agamis, nasionalis, cerdas, sehat, optimis, mandiri dan berdaya saing tinggi.  

Tujuh temuan strategi hasil analisis SWOT tersebut setidak-tidaknya bisa menjadi masukan apa yang harus dilakukan secara nasional atau daerah/wilayah dalam menguatkan imunitas bangsa dan negara dalam menghadapi isu resesi ekonomi global. Selanjutnya di tingkat pribadi, keluarga atau lingkungan sekitar, kita bisa merumuskan menjadi beberapa strategi turunan agar semakin kebal terhadap serangan resesi global, yaitu:

Baca juga  KMB, Komitmen Pemda dan Kualitas Pendidikan di Kaltara

Kuatkan mental kita dengan pemahaman terkait Ketuhanan yang benar agar kita memiliki mental positif, tangguh dan trengginas. Memandang bencana adalah ujian yang menantang setiap orang untuk introspeksi diri, memperbaiki cara berekonomi dengan melakukan banyak inovasi baru yang mampu menciptakan semakin banyak kemanfaatan.

Kembangkan seluruh potensi pribadi dalam berekonomi dengan tidak bergantung pada satu sumber penghasilan.

Kuatkan jejaring ekonomi kerakyatan. Saling bahu membahu meringankan beban sesama dan para dhu’afa. Utamakan bermualah atau bertransaksi dengan orang terdekat dengan membeli dan mengkonsumsi produk-produk yang djual atau dihasilkan oleh tetangga dan saudara-saudara kita. 

Melakukan penghematan pengeluaran dengan prinsip hanya untuk kebutuhan skala prioritas sehingga memiliki lebih banyak cadangan finansial.

Optimalkan produktivitas aset bernilai yang dimiliki. Jangan sampai ada aset tidur atau tidak menghasilkan kemanfaatan. Rumah, tanah, kendaraan, dan barang-barang lainnya jadikan sebagai faktor produksi yang bisa menghasilkan cuan. Jangan biarkan ruang-ruang di rumah atau gedung-gedung yang kita miliki tidak termanfaatkan secara maksimal. Jangan sampai ada sisa tanah atau lahan yang terlantar, tidak diurus, hanya berisi semak belukar tanpa tanaman yang menghasilkan. Juga jangan sampai ada kendaraan-kendaraan atau barang-barang yang hanya menjadi pajangan atau hanya untuk memoles penampilan tanpa memiliki kemanfaatan yang jelas.

Itulah hasil pemikiran dan langkah-langkah strategi mitigasi risiko menghadapi kemungkinan dampak buruk akibat resesi ekonomi. Yang penting, tetap optimis dan terus melangkah. Tidak akan ada usaha yang sia-sia. Semuanya akan menjadi indah pada waktunya, sebab hasil tidak akan mengkhianati usaha. In Sya Allah.

Baca juga

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer