Di Antara Akar Mangrove, Harapan Itu Tumbuh Lagi

redaksi

Akar-akar mangrove mencengkeram kuat dengan tanah, seolah menahan ingatan masa lalu yang nyaris hilang. Disela rimbunnya daun, suara ombak berbaur dengan kehidupan yang perlahan kembali. Tempat ini dulunya bukan hutan, melainkan hamparan tambak terbengkalai yang sunyi dan nyaris tak bernyawa. Sedikit mengulik kawasas pesisir Kota Tarakan, tepatnya di Kelurahan Kampung Empat, tempat ini dulunya terabaikan.

————-

Menurut cerita, pada 1990-an, bentang mangrove itu mulai tergerus. Alih fungsi lahan menjadi tambak mengubah wajah pesisir secara drastis. Pohon-pohon mangrove ditebang, digantikan petak-petak tambak yang tak semuanya bertahan lama. Ketika tambak ditinggalkan, yang tersisa hanyalah lahan rusak tanpa perlindungan alami, tanpa kehidupan yang dulu bergantung padanya.

Dampaknya terasa hingga ke dapur warga. Sungai yang dahulu kaya ikan dan udang perlahan kehilangan isinya. Bagi masyarakat Kampung Empat, ini bukan sekadar perubahan lanskap, tetapi hilangnya sumber penghidupan dan bagian dari identitas mereka sebagai masyarakat pesisir.

Namun, harapan ternyata tidak benar-benar hilang, ia hanya menunggu untuk ditanam kembali. Tahun 2019 menjadi titik balik, melalui program Kebun Bibit Rakyat (KBR) yang didukung oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Mahakam Berau, warga mulai bergerak. Bersama KPH Tarakan dan program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR), mereka menanam sesuatu yang lebih dari sekadar pohon, mereka menanam keyakinan bahwa alam bisa pulih.

Baca juga  Berikut Penjelasan Akan Makna dan Sejarah Tahun Baru, Klik Dulu . . .

Di bawah terik matahari dan lumpur yang lengket di kaki, warga dari berbagai kelompok turun langsung. Kelompok Masyarakat Konservasi, Karang Taruna, hingga masyarakat umum bergotong royong menghijaukan kembali lahan seluas kurang lebih 60 hektare dengan lokasi terpisah. Satu per satu bibit mangrove ditanam, dirawat, dan dijaga.

Perubahan itu tidak terjadi seketika. Seperti akar mangrove yang tumbuh perlahan tapi pasti, hasilnya mulai terlihat. Kini, kawasan yang dulu gersang telah berubah menjadi Mangrove Edupark Kampung Lestari. Rimbunnya pepohonan menghadirkan kembali kehidupan. Burung-burung datang, biota laut kembali berkembang, dan yang paling dirasakan warga: ikan dan udang tak lagi sulit ditemukan.
“Ikan sudah dekat,” begitu warga menyebutnya, sebuah ungkapan sederhana yang menyimpan makna besar. Dulu mereka harus pergi jauh untuk mencari tangkapan, kini cukup di sekitar kampung. Di sela akar mangrove, kehidupan yang sempat pergi kini kembali pulang.

Baca juga  GP Ansor Kaltara Dukung Polri di Bawah Presiden, Wujudkan Komando Efektif dan Penegakan Hukum Profesional

Perubahan juga merambah pada kualitas hidup, jika dulu suara bising aktivitas industri mendominasi, kini suasana menjadi lebih tenang. Mangrove bukan hanya pelindung pesisir, tetapi juga pelindung ruang hidup warga. Mangrove membuka jalan bagi sumber penghidupan baru. Kebun bibit yang dikelola masyarakat, terutama perempuan, menjadi alternatif ekonomi. Dari sini, jutaan harapan kecil disemai, hampir satu juta bibit mangrove telah diproduksi dan dibagikan, bahkan secara gratis kepada berbagai pihak yang ingin ikut menanam.

Semangat berbagi ini menjadikan Kampung Empat bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga pemberi inspirasi. Kini, kawasan ini berkembang menjadi ruang belajar terbuka. Mangrove Edupark Kampung Lestari menjadi tempat sekolah lapang bagi masyarakat dari berbagai wilayah. Puluhan kelompok dari seluruh Kalimantan Utara pernah datang untuk belajar, melihat langsung bagaimana akar-akar kecil bisa mengubah masa depan.
Ketua Karang Taruna Kampung Empat, Sugeng, masih mengingat masa ketika sungai begitu kaya akan hasil laut. Ia juga menyaksikan bagaimana semuanya perlahan hilang. “Itu seperti peringatan dari alam,” ujarnya.

Kini, ia melihat sendiri bagaimana peringatan itu dijawab dengan aksi nyata.Perjalanan ini bukan tanpa tantangan, pada 2023, sempat terjadi klaim lahan di kawasan Edupark. Namun, melalui mediasi pemerintah daerah, persoalan tersebut dapat diselesaikan tanpa menghentikan proses pemulihan. Bahkan, saat ini kawasan tersebut tengah diupayakan masuk sebagai area lindung dalam rencana tata ruang kota.
“Perjalanan panjang, tentu bukan waktu sebentar pasti ada suka dukanya, ya begitulah, alhamdulillah sampai hari ini sudah lebih baik,” seloroh Sugeng.

Baca juga  Mahasiswa UBT Gelar Diskusi Kritis: Revisi KUHP, Alat Progresif atau Represif Baru?


Pengakuan pun datang, Kampung Empat meraih penghargaan ProKlim Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan kini diusulkan sebagai kandidat penerima Kalpataru 2026. Namun, bagi warga, pencapaian terbesar bukanlah penghargaan, melainkan kembalinya kehidupan itu sendiri. Apa yang tumbuh di Kampung Empat hari ini bukan hanya mangrove.
Di antara akar-akar yang saling mengikat kuat, tumbuh pula harapan tentang alam yang pulih, tentang masa depan yang lebih baik, dan tentang keyakinan bahwa perubahan bisa dimulai dari tangan-tangan sederhana yang mau bergerak bersama. (**)

Baca juga

Tags

Ads - Before Footer