TANJUNG SELOR – Sepuluh tahun bukan perjalanan yang singkat bagi sebuah ruang kreatif. Di tengah perubahan zaman dan selera hiburan yang terus bergerak, Musik Alam justru memilih kembali pada sesuatu yang paling sederhana: musik, alam, budaya, dan manusia.
Semangat itulah yang akan dibawa dalam Satu Dekade Musik Alam 2K26, yang dijadwalkan berlangsung pada 27–29 November 2026 di Kebun Raya Bundayati Bulungan (KRBB), Tanjung Selor.
Mengusung tema “Back to Nature”, perayaan satu dekade ini tidak sekadar menghadirkan pertunjukan musik. Musik Alam ingin menjadikan panggung hiburan sebagai ruang untuk kembali mengingat hubungan manusia dengan alam sekaligus memperkenalkan kekayaan seni dan budaya daerah.
Bekerja sama dengan Mata Sanggam, penyelenggara membawa konsep yang memadukan hiburan, rekreasi, pariwisata, dan kampanye lingkungan dalam satu perhelatan.
Tema Back to Nature diterjemahkan melalui sejumlah pesan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari kampanye pelestarian hutan, penguatan seni dan budaya lokal, hingga menciptakan area acara yang ramah anak dan bebas asap rokok maupun vape.
Dengan konsep tersebut, Musik Alam mencoba menghadirkan pengalaman festival yang tidak berhenti ketika musik selesai dimainkan. Ada pesan yang ingin dibawa pulang oleh setiap pengunjung: bahwa menikmati hiburan dan menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan.
Perjalanan satu dekade juga membuat penyelenggara menghadirkan sesuatu yang berbeda. Ketua Pelaksana Musik Alam 2K26, Andi Ruli, mengungkapkan persiapan acara saat ini telah mencapai sekitar 80 hingga 85 persen.
Salah satu kejutan yang disiapkan adalah kehadiran Enau, musisi yang dikenal melalui lagu Sesi Potret. Kehadiran Enau menjadi salah satu daya tarik karena penampilannya di Musik Alam 2K26 akan menjadi penampilan perdananya di Pulau Kalimantan.
“Penampilan pertama Enau di Kalimantan akan jadi momen yang sangat indah. Selain Enau, akan ada penampilan spektakuler lainnya dan bukan tidak mungkin ada penambahan guest star lainnya,” ujar Andi Ruli, Minggu (27/9/2026).
Kehadiran musisi dari luar daerah tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana Musik Alam berkembang dari sebuah ruang pertunjukan menjadi salah satu bagian dari ekosistem kreatif yang mempertemukan musisi, komunitas, pelaku usaha, penikmat seni dan masyarakat.
Ada hal lain yang ingin dijaga dalam perhelatan satu dekade ini: kenyamanan pengunjung. Panitia membatasi jumlah penonton maksimal 1.500 orang. Pembatasan tersebut menjadi bagian dari konsep penyelenggaraan agar suasana festival tetap nyaman dan pengalaman pengunjung dapat terjaga.
Sistem pembelian tiket juga dilakukan secara daring dengan pemindaian kode QR. Sementara itu, tiket kategori Blank Ticket dan Presale sebelumnya telah habis terjual dalam waktu relatif singkat. Untuk sisa kuota, panitia membuka tiket harga normal sebesar Rp150 ribu dengan fasilitas potongan 10 persen melalui kode voucher dari sejumlah media partner, termasuk Pena Kaltara.
Namun, di balik urusan tiket dan panggung, Musik Alam membawa misi yang lebih panjang. Satu dekade Musik Alam menjadi momentum untuk menegaskan bahwa kegiatan kreatif tidak harus berdiri sendiri.
Musik dapat berjalan bersama budaya. Budaya dapat berjalan bersama pariwisata. Pariwisata dapat tumbuh bersama ekonomi kreatif. Dan semuanya dapat dibangun dengan tetap membawa pesan tentang lingkungan.
“Kita tidak hanya menunjukkan musik dan budaya, tetapi juga isu lingkungan. Gongnya satu dekade ini adalah bagaimana kita tetap eksis memelihara hutan dan budaya lokal,” kata Andi Ruli.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran mengenai arah Musik Alam ke depan. Festival ini tidak hanya ingin menjadi agenda tahunan yang dinanti karena deretan musisinya. Lebih jauh, Musik Alam ingin mempertahankan identitas sebagai ruang yang mempertemukan kreativitas dengan kepedulian terhadap lingkungan dan budaya lokal.
Bagi Kalimantan Utara, gagasan semacam ini memiliki arti tersendiri. Di tengah geliat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, ruang-ruang kreatif yang mengangkat identitas lokal dapat menjadi bagian dari cara memperkenalkan daerah kepada masyarakat luar.
Panitia berharap Musik Alam dapat kembali masuk dan menembus Top 50 KEN pada tahun mendatang. Target itu bukan sekadar soal penghargaan, tetapi juga menjadi dorongan agar event lokal dapat terus berkembang dengan standar penyelenggaraan yang semakin baik.
Pada akhirnya, satu dekade Musik Alam bukan hanya tentang berapa banyak orang yang datang, berapa banyak musisi yang tampil, atau seberapa besar panggung yang dibangun.
Lebih dari itu, ada cerita tentang bagaimana sebuah ruang kreatif di Kaltara berusaha bertahan, tumbuh, dan menemukan identitasnya sendiri. Di bawah pepohonan dan ruang terbuka Kebun Raya Bundayati, musik akan kembali dimainkan.
Tetapi kali ini, pesannya mungkin jauh lebih luas: bahwa musik bisa menjadi suara bagi budaya, budaya bisa menjadi kekuatan pariwisata, dan semuanya bisa tumbuh tanpa harus meninggalkan alam.
Satu dekade Musik Alam 2K26 pun bersiap menjadi ruang perjumpaan—antara musik, manusia, budaya, dan alam. (dd)












