Pertalite “Gaib” di Tanjung Selor, Harga Bensin Eceran Tembus Segini Bikin Warga Syok!

redaksi

Pedagang eceran di Tanjung Selor lebih banyak menjual BBM jenis pertamax, pasca Pertalite langka. (FOTO:Yohanes/PENA KALTARA)

TANJUNG SELOR – Warga Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, belakangan ini dibuat pusing, pasalnya, bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite seolah “gaib” dari pasaran. Kelangkaan ini tak hanya menyiksa pengendara, tetapi juga para pedagang bensin eceran yang kebingungan mencari stok.

Kondisi memprihatinkan ini salah satunya dirasakan oleh Ina, seorang pedagang bensin eceran di Jalan Durian, Tanjung Selor. Ia mendapatkan Pertalite saat ini tidak mudah, antrean yang mengular panjang di SPBU membuatnya tak sanggup lagi menyediakan Pertalite setiap hari untuk pelanggannya.

“Iya, susah dapat Pertalite sekarang. Apalagi harus mengantri berjam-jam, jadi kita jualan Pertalite juga kadang-kadang saja, tidak setiap hari kita berjualan Pertalite,” keluh Ina saat ditemui, Jumat (4/9/2026).

Baca juga  Pernikahan Dini Masih Jadi Pemicu Anak Putus Sekolah di Bulungan

Hilangnya Pertalite dari pasaran ini memicu efek domino yang bikin warga syok. Karena stok kosong, para pedagang eceran terpaksa banting setir beralih menjual BBM jenis Pertamax agar lapak mereka tetap berasap.

Namun, peralihan ini mau tak mau membuat harga eceran melonjak drastis. Jika biasanya Pertalite eceran dijual seharga Rp13.000 per liter, kini warga mau tidak mau harus merogoh kocek hingga Rp20.000 per liter untuk membeli Pertamax di tingkat eceran. Perbedaan harga yang mencolok ini nyatanya langsung membuat pelanggan kabur.

“Menurun sih (pembelinya),” ungkap Ina lirih ketika ditanya mengenai omzet jualannya setelah terpaksa hanya memajang Pertamax.

Ina menyadari, harga menjadi alasan utama mengapa lapaknya kini sepi. Angka Rp20.000 per liter dianggap terlalu berat bagi sebagian besar pelanggannya yang biasanya terbiasa dengan harga Pertalite.

Baca juga  Teguhkan Semangat Kebhinekaan Melalui Tarian Masal di Gelaran Birau Bulungan 2025

“Mungkin harga, kalau bisa dibilang lumayan mahal,” kata Ina.

Situasi sulit ini sudah dirasakannya sejak beberapa waktu terakhir. “Kurang tahu juga kalau aku sih, dalam sebulan inilah mengalami penurunan,” bebernya.

Bagi pedagang eceran seperti Ina, fenomena gaibnya Pertalite ini ibarat buah simalakama. Di satu sisi, mereka harus tetap memiliki stok BBM jenis apa pun agar bisa terus berjualan dan menyambung hidup. Namun di sisi lain, daya beli masyarakat yang menolak harga mahal membuat dagangan mereka mandek.

Sementara itu, salah satu warga Desa Tras Baru, Bulungan, Rudi, turut merasakan kesulitan mendapatkan Pertalite sehingga terpaksa membeli Pertamax.

Baca juga  Kedalaman Kayan II Hanya 4 Meter Saat Pasang, Penyedotan Pasir Dikebut

“Karena susahnya cari Pertalite, jadi saya terpaksa beli Pertamax,” bebernya.

Ia juga terbebani karena harganya Pertamax lebih mahal. Namun, ia tak punya pilihan ketika Pertalite sulit ditemukan.

“Karena tidak ada Pertalite, jadi saya terpaksa harus beli Pertamax walaupun itu mahal,” imbuhnya.

Rudi berharap persoalan ketersediaan Pertalite segera diatasi. Ia meminta pendistribusian BBM bersubsidi tersebut dapat dipercepat agar masyarakat kembali mudah mendapatkannya. (ve26/nn)

Baca juga

Tags