TANJUNG SELOR – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara mencatat pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 telah mencapai 23 persen dari total target pendataan. BPS terus mempercepat proses pendataan hingga ke wilayah perbatasan dan pelosok agar seluruh rumah tangga serta pelaku usaha dapat terdata sebelum batas akhir pelaksanaan pada 31 Agustus 2026.
Kepala BPS Kalimantan Utara, Mustaqim, mengatakan, petugas saat ini terus bergerak dari rumah ke rumah, termasuk di daerah yang memiliki akses transportasi dan jaringan internet terbatas. Memastikan pendataan tetap berjalan, petugas dibekali aplikasi yang dapat digunakan secara offline.
“Di daerah yang sulit sinyal, petugas tetap melakukan pendataan secara offline. Setelah menemukan akses internet, data baru dikirim ke sistem, sehingga keterbatasan jaringan tidak menjadi hambatan,” ujar Mustaqim, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, seluruh progres pendataan dipantau secara real time melalui dashboard BPS sehingga perkembangan di setiap wilayah dapat terus dimonitor dan dievaluasi.
Meski terus dikejar, Mustaqim menegaskan keberhasilan sensus tidak hanya diukur dari kecepatan penyelesaian, tetapi juga kualitas data yang dihimpun. Ia berharap masyarakat memberikan informasi yang benar sesuai kondisi sebenarnya.
“Yang paling penting bukan hanya selesai tepat waktu, tetapi data yang diberikan masyarakat harus benar-benar riil sesuai kondisi di lapangan,” katanya.
Sensus Ekonomi 2026 mencakup seluruh rumah tangga dan pelaku usaha di Kalimantan Utara, mulai dari pedagang pasar, usaha perkebunan sawit, sektor pertambangan, hingga pelaku usaha di kawasan perkotaan maupun rumah susun. Secara keseluruhan, BPS menargetkan mendata sekitar 250 ribu hingga 280 ribu rumah tangga melalui kunjungan langsung dari rumah ke rumah.
Dalam pelaksanaannya, petugas menghadapi berbagai tantangan, terutama kondisi geografis Kalimantan Utara. Di sejumlah wilayah seperti Kecamatan Sebuku dan kawasan Sebakung, banjir menjadi hambatan yang harus dihadapi petugas untuk menjangkau lokasi pendataan.
“Ada petugas yang harus menggunakan perahu, bahkan berjalan kaki hingga dua hari untuk mencapai lokasi pendataan. Itulah perjuangan teman-teman kami agar seluruh wilayah tetap terdata,” ungkapnya.
Selain medan yang berat, petugas juga harus menyesuaikan waktu kunjungan dengan aktivitas masyarakat. Banyak warga yang bekerja hingga malam hari atau berada di kebun sejak pagi sehingga pendataan dilakukan pada waktu yang memungkinkan.
“Kami menyesuaikan dengan waktu masyarakat berada di rumah. Yang penting semua sasaran dapat ditemui sebelum batas akhir pendataan pada 31 Agustus 2026,” jelas Mustaqim.
Sensus Ekonomi 2026 berlangsung 15 Juni hingga 31 Agustus 2026. Hasil pendataan akan menjadi dasar pemerintah dalam menyusun kebijakan dan perencanaan pembangunan ekonomi yang lebih tepat sasaran. (ve26/nn)






