Warga Muhammadiyah Gelar Salat Idulfitri, Isi Khutbah Menyikapi Isu Resesi Global Tahun 2023

redaksi

TANJUNG SELOR, penakaltara id – Ibadah Salat Idulfitri warga Muhammadiyah yang salah satunya berlangsung di Masjid Ar- Rahman, Jalan Sengkawit, Gang Padaidi, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan berlangsung khidmat pada Jum’at pagi (21/4/2023). 

Diketahui, pelaksanaan tersebut mengacu pada maklumat yang dikeluarkan oleh pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 01/MLM/1.0/E/2023 tentang penetapan Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah 1444 Hijriah.

Penetapan itu menegaskan bahwa 1 Ramadhan jatuh pada Kamis 23 Maret 2023, 1 Syawal jatuh pada Jum’at 21 April 2023, 1 Dzulhijjah jatuh pada Senin 19 Juni 2023. Hari Arafah jatuh Selasa 27 Juni 2023 dan Idul Adha pada Rabu 28 Juni 2023. 

Sehingga berdasarkan penetapan maklumat itu, segenap warga Muhammadiyah di Indonesia dan Cabang Istimewa di luar negri merayakan Idulfitri pada Jum’at 21 April 2023.

Untuk di Masjid Ar – Rahman, Jalan Sengkawit, Gang Padaidi, Tanjung Selor. Dengan Imam dan Khotib Dr. Arif Jauhar Tontowi, MM. Suasana sejak pukul 06.00 Wita, warga berbondong-bondong bersama sanak keluarga mendatangi masjid. Hingga sekira pukul 07.20 Wita, Ibadah Salat Idulfitri dimulai. 

Dalam khutbahnya, Dr. Arif menyampaikan salah satunya menyikapi isu resesi global tahun 2023. Pasalnya, sebelumnya ada warning yang secara langsung diutarakan oleh Presiden RI, Ir. Joko Widodo dan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Kristalina Georgieva yang mengingatkan, bahwa di tahun ini adalah tahun sulit. 

Situasi berada di bawah bayang-bayang pertumbuhan negatif ekonomi dunia. Beberapa tanda menunjukkan, sebagian besar negara-negara di dunia sedang menghadapi krisis energi, minyak, gas dan keuangan. Pergerakan mata uang dan nilai tukar mengalami fluktuasi yang tidak menentu. Indonesia mengalami penurunan nilai tukar diangka minus 7, Jepang minus 25, RRT minus 13 dan Philipina minus 15. Inflasi negara-negara besar dan adi daya di atas 10%. Sebanyak 340 juta orang di 82 negara mengalami krisis pangan parah.

Bahkan, sebanyak 19.700 orang meninggal setiap hari karena kelaparan. Artinya, itu adalah sinyal terkini yang menggambarkan bakal terjadi gelombang resesi ekonomi. Sehingga di hari Fitri yang membahagiakan ini, sembari bersama banyak bersyukur karena ditempatkan di negeri yang gemah ripah loh jinawi (negeri luas yang subur dan makmur rakyatnya) dan juga masih dipertemukan kembali dengan hari kemenangan, setelah selama bulan Ramadan berhasil mengendalikan nafsu angkara murka melalui ibadah puasa. 

“Mari sejenak kita berempati dan merefleksi fenomena global yang sedang digoncang cobaan. Belum sembuh luka dunia dibantai pandemi Covid 19, kini dihadapkan ancaman resesi ekonomi global,” ucap Dr. Arif dalam khutbahnya.

Lalu bagaimana sikap umat Islam menghadapi isu resesi dunia tersebut? Jika diperhatikan dengan seksama, keadaan hidup manusia bagaikan roda berputar. Terus bergerak tak pernah berhenti walau sejenak. Kadang di atas kadang di bawah. Kadang senang dan kadang susah atau bahkan sengsara. Bagi orang-orang yang beriman dan pandai bersyukur semua keadaan itu dipandangnya sebagai tantangan dan kenikmatan. Dinamika berputarnya roda kehidupan itu tetap membuatnya tenang dan bahagia. Sehingga orang beriman tetap mampu berpikir positif, kreatif dan inovatif. 

Baca juga  Wujud Kepedulian di Momen Ramadhan, IKAT Tanjung Selor & Bulungan Gelar Aksi Berbagi Takjil

Keyakinannya mengajarkan akan kewajiban untuk berikhtiar, selebihnya adalah berserah diri terhadap kehendak Allah SWT yang berkuasa penuh menetapkan hasilnya. Tapi, bagi orang-orang yang tidak beriman dan ingkar, bencana dirasakannya sebagai siksaan yang menyedihkan. Hidupnya resah, ketakutan, lalu mencari kambing hitam, saling menjegal dan menyalahkan hingga berspekulasi menyelematkan nasibnya sendiri-sendiri. 

Sikap mental seperti inilah yang menjadikan titik balik cobaan hidup dirasakannya seperti siksaan yang. Sementara, cara menyikapi hidup seperti itu menjadikan orang-orang beriman selalu merasa baik-baik saja. Yang terjadi dihadapannya senantiasa dipandang yang terbaik memang harus terjadi atas izin Allah SWT. Maka, sekalipun hidup dalam himpitan keterbatasan, kesulitan atau bahkan hempasan badai yang dahsyat, tetap berprasangka baik kepada Allah SWT. 

“Badai pasti berlalu, karena tidak ada yang abadi di dunia ini. Allah pasti punya rencana lain yang terbaik buat hambanya. Dibalik setiap cobaan atau ujian sesungguhnya Allah ingin mengangkat ke derajat yang lebih tinggi. Setiap cobaan yang datang sesungguhnya Allah hendak membersihkan kemaksiatan atau dosa-dosa dan kekeliruan dalam mengatur dunia. Lalu mengembalikan manusia pada posisi yang mulia,” bebernya. 

Apapun dinamikanya dalam hidup ini, semuanya hanya sekadar ujian bagi yang beriman. Setiap ujian ada masa berjuang dan masa kemenangan. Maka tak ada alasan untuk berkeluh kesah, menyesal, apalagi putus asa. Semua akan ada akhirnya. Terus semangat dan bergembira menghadapinya karena akhirnya akan sampai di titik perubahan. Yakinlah akan janji Allah SWT, bahwa sesudah kesulitan akan datang kemudahan. Dan dibalik kesabaran akan ada keberhasilan. Setelah menguatkan iman agar tidak menggoyahkan aqidah dalam menghadapi cobaan isu resesi global.

“Lalu langkah nyata apa yang harus dilakukan? Sebagai umat yang beragama dan berilmu pengetahuan, mari kita analisis untuk menemukan strategi menghadapinya,” ajaknya. 

Baca juga  SPJ Kaltara Gelar Buka Puasa Bersama dan Peduli Sesama

Seperti diketahui, .enurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), resesi merupakan kondisi di mana perekonomian suatu negara sedang memburuk, yang terlihat dari produk domestik bruto (PDB) negatif, pengangguran meningkat, dan pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut. Situasi seperti ini akan membuat masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya. Harga-harga kebutuhan sehari-hari relatif menjadi mahal. 

“Tak sampai di situ, persediaannya pun menjadi terbatas. Hal ini disebabkan kegiatan industri mengalami penurunan hasil produksi atau bahkan berhenti tutup karena tidak mampu lagi menjalankan kegiatan usahanya. Oleh karena itu diperlukan strategi khusus menghadapinya agar tetap bisa bertahan hidup secara normal. 

“Dalam ilmu manajemen, untuk merumuskan strategi bisa dilakukan dengan cara menganalisis berbasis kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunies) dan ancaman (thraits) yang di kenal dengan akronim SWOT Analysis. Kekuatan 

kita adalah, bangsa berketuhanan yang disatukan oleh idiologi Pancasila, negara besar kaya sumber daya alam, dan memiliki posisi geografis strategis,” bebernya. 

Sedangkan, kelemahannya adalah, kemandirian dan daya saing SDM, digitalisasi, sistem keuangan, korupsi, dankepastian hukum. Peluangnya adalah, menjadi produsen besar industri hijau dan pasar potensial domestik maupun internasional. Ancamannya adalah, imperialisme ekonomi dan budaya asing, bayang-bayang boneka politik (kekuasaan) para cukong, dan narkotika/narkoba. 

“Berdasarkan hasil analisis SWOT tersebut, maka kita dapat merumuskan beberapa strategi seperti, Strategi SO (Strengths-Opportunities) yaitu, strategi yang harus dapat menggunakan kekuatan untuk meraih peluang yang ada. Yakni Kolaborasi penguatan keimanan dan pemahaman agama dalam menghadapi cobaan. Hilirisasi industri berbasis ekonomi hijau dengan mengutamakann faktor-faktor produksi lokal untuk pasar domestik dan internasional. Komersialisasi posisi geografis strategis Indonesia dalam arus perdagangan internasional,” jelasnya. 

Kedua, strategi WO (Weaknesses-Opportunities) yaitu, strategi menguatkan kelemahan untuk meraih peluang yang ada. Yakni, hilangkan ketergantungan terhadap asing dengan membangun kemandirian ekonomi hijau dan digitalisasi UMKM dalam ekonomi kerakyatan (dari rakyat, oleh rakyat untuk rakyat). Gerakan literasi keuangan, anti korupsi dan penegakkan hukum. Ketiga Strategi ST (Strenghts-Thraits) yaitu, strategi memberdayakan kekuatan guna mengatasi ancaman yang mungkin timbul. Yakni, penguatan moderasi beragama, idiologi Pancasila dan rasa nasionalisme untuk menangkal imperialism ekonomi dan budaya asing, serta bayang-bayang cukong politik dan 

peredaran narkotika/narkoba,” sebutnya. 

Baca juga  Dua Belas Lembaga di Kaltara Dibina Pengutamaan Bahasa Negara

Terakhir, atau kelima. Yaitu Strategi WT (Weaknesses-Thraits) yaitu, strategi yang bertujuan menguatkan kelemahan untuk meminimalkan dampak dari ancaman yang ada. Yakni:l, penguatan karakter bangsa yang agamis, nasionalis, cerdas, sehat, optimis, mandiri dan berdaya saing tinggi. Dan tujuh temuan strategi hasil analisis SWOT tersebut setidak-tidaknya bisa menjadi masukan apa yang harus dilakukan secara nasional atau daerah/wilayah dalam menguatkan imunitas angsa dan negara dalam menghadapi isu resesi ekonomi global. 

“Selanjutnya di tingkat pribadi, keluarga atau lingkungan sekitar, kita bisa merumuskan menjadi beberapa strategi turunan agar semakin kebal terhadap serangan resesi global,” katanya. 

“Seperti, kuatkan mental kita dengan pemahaman keimanan dan ketahui dan yang benar agar kita memiliki mental positif, tangguh dan trengginas. Memandang bencana adalah ujian yang menantang setiap orang untuk introspeksi diri, memperbaiki cara berekonomi dengan melakukan banyak inovasi baru yang mampu menciptakan semakin banyak kemanfaatan,” tuturnya.

“Kembangkan seluruh potensi pribadi dalam berekonomi dengan tidak bergantung pada satu sumber penghasilan. Kuatkan jejaring ekonomi umat. Saling bahu membahu meringankan beban sesama dan para du’afa. Utamakan bermualah atau bertransaski dengan orang terdekat dengan membeli dan mengkonsumsi produk-produk yang di jual atau dihasilkan oleh tetangga dan saudara-saudara kita,” sambungnya.

Tak hanya itu, sekiranya juga melakukan penghematan pengeluaran dengan prinsip hanya untuk kebutuhan skala prioritas sehingga memiliki lebih banyak cadangan finansial. Optimalkan produktivitas aset bernilai yang dimiliki. Jangan sampai ada aset tidur atau tidak menghasilkan kemanfaatan. Rumah, tanah, kendaraan, dan barang-barang lainnya jadikan sebagai faktor produksi yang bisa menghasilkan cuan. Jangan biarkan ruang-ruang di rumah atau gedung-gedung yang dimiliki tidak termanfaatkan secara maksimal. Jangan sampai ada sisa tanah atau lahan yang terlantar, tidak diurus, hanya berisi semak belukar tanpa tanaman yang menghasilkan. Juga jangan sampai ada kendaraan-kendaraan atau barang-barang yang hanya menjadi pajangan atau hanya untuk memoles penampilan tanpa memiliki kemanfaatan yang jelas. 

“Itulah pemikiran dan ikhtiar yang bisa kita lakukan dalam menyikapi kemungkinan terjadinya resesi global di tahun 2023. Yakinlah tidak ada usaha yang sia-sia. Kewajiban kita hanyalah berusaha dengan sungguh-sungguh setelah itu berserah diri (bertawakal) kepada-Nya. Semua akan berubah jika kita Umat Islam memang berusaha untuk merubahnya. Semuanya akan menjadi indah pada waktunya sebab hasil tidak akan mengkhianati usaha,” tutupnya. (*) 

Baca juga

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer