Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) resmi melakukan perubahan nomenklatur pada sejumlah program studi di perguruan tinggi di Indonesia. Salah satu yang paling mencolok adalah perubahan istilah “Teknik” yang kini disesuaikan menjadi “Rekayasa”.
Kebijakan ini tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 96/B/KPT/2025 yang ditetapkan pada 9 September 2025. Aturan tersebut sekaligus menggantikan ketentuan sebelumnya dan menjadi acuan baru dalam penamaan program studi di seluruh perguruan tinggi nasional.
Perubahan nama ini dilakukan sebagai bagian dari upaya penyelarasan dengan standar pendidikan internasional, di mana istilah “Engineering” lebih tepat diterjemahkan sebagai “Rekayasa”. Dengan penyesuaian ini, pemerintah berharap lulusan Indonesia memiliki daya saing yang lebih kuat serta lebih mudah diakui di tingkat global, termasuk dalam proses akreditasi internasional.
Meski terjadi perubahan nomenklatur, Kemendiktisaintek menegaskan bahwa substansi pembelajaran tidak mengalami perubahan. Kurikulum tetap berjalan seperti biasa dan kompetensi lulusan tidak terpengaruh oleh penyesuaian nama tersebut.
Selain itu, gelar akademik lulusan juga tetap tidak berubah, yaitu Sarjana Teknik (S.T.). Ijazah lulusan lama pun tetap dinyatakan sah dan tidak memerlukan penggantian.
“Gelar lulusannya juga tetap Sarjana Teknik (S.T.). Ijazah alumni lama juga tetap sah dan tidak perlu diganti,” demikian keterangan yang disampaikan melalui akun resmi @akupintar.id.
Kebijakan ini juga memberikan fleksibilitas bagi perguruan tinggi dengan status Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam menyesuaikan nama program studi yang setara.
Bagi calon mahasiswa, perubahan ini dipastikan tidak perlu menjadi kekhawatiran. Meski namanya diperbarui agar lebih modern dan selaras dengan standar global, isi pembelajaran dan kualitas pendidikan tetap berada pada jalur yang sama seperti sebelumnya. (***)





