Alarm Kebakaran, Api dan Trauma

redaksi

Oleh : Rachmad Rhomadhani, S.T, Jurnalis

MUSIBAH kebakaran rumah yang berulang di Kabupaten Bulungan, khususnya di wilayah Tanjung Selor dan sekitarnya, seakan menjadi luka yang belum sempat sembuh sudah kembali disayat. Hampir setiap kejadian baru, pola penyebabnya terdengar serupa: dugaan korsleting listrik. Dan di titik inilah muncul kegelisahan yang makin lama makin sulit diabaikan—apakah kita benar-benar sedang menghadapi “musibah”, atau ada kelalaian sistemik yang dibiarkan terus terjadi?

Di satu sisi, listrik sudah menjadi kebutuhan vital yang menopang hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat. Namun di sisi lain, jaringan yang seharusnya menjadi penopang justru kerap diduga menjadi pemicu kehancuran. Ketika rumah-rumah hangus dalam hitungan menit, yang tersisa bukan hanya puing dan abu, tetapi juga trauma yang menempel lama di kepala para korban. Api mungkin padam dalam beberapa jam, tetapi ketakutan itu hidup jauh lebih lama.

Baca juga  Strategi Antisipasi Dampak Resesi Global

Di tengah kondisi ini, wajar jika muncul suara-suara masyarakat yang berharap pihak PLN tidak hanya hadir sebagai penyedia listrik, tetapi juga ikut bertanggung jawab secara moral ketika dugaan penyebab kebakaran mengarah pada sistem kelistrikan. Bukan semata-mata soal menyalahkan, tetapi soal kepedulian. Setidaknya ada bentuk “tali asih” atau bantuan kemanusiaan bagi warga yang kehilangan rumah, harta, bahkan rasa aman mereka. Karena bagi korban, rumah bukan sekadar bangunan—itu adalah tempat pulang, tempat bernaung, dan tempat menggantungkan harapan.

Kisah di Desa Mara I menjadi gambaran paling nyata dari betapa pahitnya musibah ini. Di balik satu rumah yang terbakar, ada satu keluarga yang sedang berjuang bertahan dalam hidup yang sudah lebih dulu berat. Sang suami yang sering keluar masuk rumah sakit, kondisi kesehatan yang tidak stabil, lalu datang lagi musibah kebakaran yang seolah meruntuhkan sisa-sisa ketenangan yang ada. Dalam situasi seperti itu, yang hancur bukan hanya fisik rumahnya, tetapi juga mental dan harapan untuk segera pulih.

Bayangkan seseorang yang sudah berjuang melawan sakit, lalu harus kembali menghadapi kehilangan tempat tinggal. Ketakutan akan “drop” secara kesehatan bukanlah berlebihan—itu sangat manusiawi. Trauma berlapis seperti ini sering kali tidak terlihat, tetapi dampaknya jauh lebih dalam dibandingkan kerusakan material yang tampak di mata.

Baca juga  Mendulang Cuan dari Limbah Medis

Karena itu, peristiwa-peristiwa seperti ini seharusnya tidak hanya berhenti pada berita duka yang berulang. Ia perlu menjadi alarm bersama—bagi pemerintah daerah, penyedia layanan listrik, dan masyarakat itu sendiri—untuk lebih serius dalam pencegahan, pemeriksaan instalasi, serta edukasi keselamatan listrik di rumah-rumah warga.

Sebab pada akhirnya, setiap rumah yang terbakar bukan hanya statistik. Di dalamnya ada kehidupan yang runtuh, ada keluarga yang kehilangan arah, dan ada harapan yang harus dibangun kembali dari nol. (***)

Baca juga

Tags

Ads - Before Footer