TANJUNG SELOR – Sejumlah titik panas (hotspot) mulai terdeteksi di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara). Menyikapi hal tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kaltara meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat sistem pemantauan guna mengantisipasi potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) selama musim kemarau.
Kepala bidang kedaruratan dan logistik pada BPBD Kaltara, Rony Haryanto, mengatakan, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta pantauan melalui aplikasi Sipongi, terdapat sejumlah titik panas yang teridentifikasi, salah satunya berada di Kabupaten Nunukan.
“Namun, BPBD mencatat adanya jeda waktu (delay) pembaruan data satelit dari NASA maupun NOAA sekitar 6 hingga 12 jam. Akibatnya, beberapa kejadian di lapangan baru terdeteksi pada dini hari berikutnya. Selain itu, ada juga kebakaran skala kecil yang dilaporkan masyarakat tetapi tidak tertangkap radar satelit,” ujar Rony, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, karakteristik Karhutla di Kaltara memiliki perbedaan dibandingkan daerah lain. Sebagian besar kemunculan titik api diduga berasal dari aktivitas pembukaan kebun atau lahan pertanian dengan luas di bawah dua hektare secara bersamaan menjelang musim tanam.
BPBD juga tetap mewaspadai faktor lain yang berpotensi memicu kebakaran, seperti keberadaan lapisan batubara di beberapa wilayah serta kondisi lahan gambut yang mudah terbakar saat cuaca panas, khususnya di wilayah Nunukan Selatan.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Kaltara terus mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Dianatranya, Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) yang mulai beroperasi sejak April lalu difungsikan untuk memantau, mendata, dan menganalisis perkembangan potensi bencana di seluruh wilayah Kaltara.
“Mengingat masih ada keterbatasan, BPBD secara bertahap mengusulkan perbaikan sejumlah peralatan yang rusak serta penambahan unit baru kepada pemerintah pusat untuk memperkuat penanganan Karhutla,” tutupnya. (wd26/nn)





