TANJUNG SELOR – Matahari masih tinggi ketika deretan tenda terpal berwarna oranye, hijau, dan biru mulai berdiri rapi di pinggir jalan. Bau segar sayur, cabai merah yang baru dipetik, dan aroma pisang matang bercampur dengan suara tawar-menawar pembeli. Inilah suasana sore di Pasar Sore Tanjung Selor, tempat hasil kebun petani hulu menemukan jalannya ke meja makan warga kota.
Di bawah tenda sederhana berkerangka kayu, seorang ibu dengan hijab abu-abu sibuk memasukkan kubis dan cabai ke dalam kantong plastik merah. Di depannya, keranjang plastik warna-warni berisi timun, jagung, bawang merah, bawang putih, dan kacang panjang tersusun rapi. Tak jauh dari sana, seorang bapak berbaju kotak-kotak dan topi hijau berdiri santai, sesekali berbincang dengan sesama penjual pasar soreh yang duduk di bangku kayu kecil.
Pasar ini tidak megah, lantainya masih berupa papan kayu dan tanah, atapnya hanya terpal yang ditopang tiang seadanya. Tapi di sinilah denyut ekonomi kecil warga Tanjung Selor berdetak setiap sore, mulai pukul 15.30 hingga sekitar pukul 21.00 WITA sampai 22.00 WITA.
“Semua ini hasil kebun sendiri. Dari teman-teman yang datang dari hulu. Mereka bawa langsung, jual sendiri,” kata Pak Daniel, salah satu pedagang pasar sore, saat ditemui Pena Kaltara.
Baginya, keunikan Pasar Sore adalah sistem jual langsung tanpa perantara. Petani membawa hasil bumi seperti padi, ubi, pisang, dan sayur dari kebun mereka, lalu menjualnya sendiri. Karena itu, harga yang ditawarkan jauh lebih murah dan terjangkau. “Daya tariknya ya itu, murah tapi kualitas bagus. Berasnya juga beras hasil bumi mereka,” bebernya.

Deretan lapak memanjang mengikuti bahu jalan. Ada yang menjual sayur mayur, ada pula yang menjajakan telur dalam rak-rak kardus, pisang gantung, hingga bumbu dapur dan kebutuhan sehari-hari. Motor dan mobil sesekali melintas pelan, berhenti sejenak untuk membeli sayur untuk makan malam. Anak-anak sekolah yang pulang juga kerap mampir membeli jajanan yang digantung di sisi tenda.
Sekitar 30 pedagang aktif berjualan di sini setiap hari. Mereka datang dari berbagai kampung di hulu Sungai Kayan, membawa hasil panen dengan perahu atau mobil bak terbuka. Bagi mereka, pasar ini bukan sekadar tempat mencari nafkah, tapi juga ruang untuk saling berbagi kabar dan menjaga silaturahmi.
Kendala tetap ada. Saat hujan turun, sebagian pedagang terpaksa meliburkan lapaknya. Parkir yang terbatas dan soal kebersihan juga menjadi tangung jawab pedagang. Namun, hal itu tidak mengurangi rasa syukur mereka.
“Kami sudah bersyukur dikasih jalan, dikasih tempat sama pemerintah daerah. Baik itu provinsi maupun pemda,” ucap Pak Daniel singkat.
Di tengah hiruk pikuk kota yang semakin modern, Pasar Sore tetap bertahan dengan caranya sendiri. Sederhana, hangat, dan jujur. Di bawah terpal yang sedikit lusuh, tersimpan cerita tentang kerja keras petani, keringat pedagang, dan harapan agar anak-anak mereka bisa sekolah setinggi mungkin.
Ketika senja turun dan lampu bohlam mulai menyala di setiap lapak, Pasar Sore Tanjung Selor berubah menjadi ruang perjumpaan. Antara petani dan pembeli, antara desa dan kota, antara hasil bumi dan kehidupan sehari-hari. (ve26/nn)





