TANJUNG SELOR – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bulungan mulai melakukan pendataan lapangan Sensus Ekonomi 2026 sejak Senin (15/6). Sebanyak 152 petugas diterjunkan untuk memetakan seluruh aktivitas ekonomi di wilayah Bulungan hingga 31 Agustus 2026.
Kepala BPS Kabupaten Bulungan, Yuda Agus Irianto, mengatakan sensus ekonomi secara nasional telah dimulai sejak 1 Mei 2026. Namun, pendataan langsung dari rumah ke rumah baru dimulai pada 15 Juni.
“Sensus ekonomi itu dimulai tanggal 1 Mei, tapi untuk pendataan langsung ke lapangannya mulai hari ini, 15 Juni sampai 31 Agustus,” ujarnya.
Menurutnya, petugas akan mendatangi seluruh rumah dan unit usaha untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai aktivitas perekonomian di Kabupaten Bulungan, mulai dari usaha skala besar hingga usaha mikro.
“Semua rumah harus kita datangi. Jadi di Bulungan ini ada 152 petugas yang akan datang secara langsung mendatangi rumah ke rumah,” jelasnya.
Ia menuturkan, hasil sensus nantinya akan memetakan sebaran dan jenis kegiatan ekonomi yang ada di setiap wilayah di Bulungan. Data tersebut menjadi dasar untuk melihat perkembangan dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Outputnya adalah seluruh kegiatan perekonomian di Kabupaten Bulungan. Jadi nanti akan terpetakan wilayah-wilayah mana, kegiatan apa saja, dalam perilaku perekonomian di Bulungan ini,” katanya.
Yuda menambahkan, data yang terkumpul juga akan dibandingkan dengan data tahun-tahun sebelumnya untuk melihat tren peningkatan maupun penurunan aktivitas ekonomi. Hasilnya akan menjadi bagian dari daftar usaha atau prelist yang disusun BPS.
“Kalau dari data BPS kita lihat pertumbuhan ekonomi ya banyak. Bapak Bupati juga kemarin menerima penghargaan tentang pertumbuhan ekonomi. Dari situ kita lihat bahwa pertumbuhan kita alhamdulillah positif,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, hasil Sensus Ekonomi 2026 akan menjadi salah satu acuan penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan dan perencanaan pembangunan ekonomi di Kabupaten Bulungan.
Untuk menjangkau wilayah pedalaman dan pelosok, BPS Bulungan melibatkan mitra statistik lokal yang telah mendapatkan pelatihan dan memahami kondisi geografis maupun bahasa setempat.
“Khusus daerah pedalaman kita menggunakan mitra setempat. Artinya mereka lebih tahu wilayahnya, apalagi dengan bahasa mereka sendiri-sendiri,” tambahnya.
Pendataan dilakukan dengan berbagai moda transportasi, mulai dari jalur sungai menggunakan perahu, kendaraan darat, hingga menjangkau kawasan pegunungan dan kepulauan.
“Kami menggunakan aplikasi Fasih yang disediakan pusat. Jadi di seluruh Indonesia sama, tapi kita harus secara rinci melihat sejauh mana yang ada di daerah kita dan kontribusinya apa saja,” pungkasnya. (ve26/nn)






