TANJUNG SELOR – Suara dentingan dua Beyblade yang saling beradu memecah keheningan malam di salah satu ruang publik di Tanjung Selor, Jumat (26/6/2026). Sorak-sorai peserta dan penonton sesekali terdengar setiap kali gasing modern itu saling menghantam hingga salah satunya keluar dari arena.
Bagi sebagian orang, Beyblade mungkin hanya identik dengan permainan anak-anak. Namun, di tangan puluhan pemuda Kalimantan Utara, permainan tersebut menjelma menjadi hobi yang menyatukan komunitas, mengasah strategi, sekaligus membuka ruang silaturahmi lintas daerah.
Turnamen kasual yang digelar di ruang terbuka itu menjadi event terbesar pertama komunitas Beyblade di Tanjung Selor. Lokasi sengaja dipilih agar masyarakat dapat melihat langsung bagaimana olahraga rekreasi ini berkembang dan semakin diminati berbagai kalangan.
Ketua komunitas, yang akrab disapa Bang Illa, mengatakan perkembangan komunitas Beyblade di Kalimantan Utara berlangsung cukup pesat dalam beberapa bulan terakhir.
Ia menceritakan, cikal bakal komunitas bermula dari pertemuan para penghobi Beyblade asal Tarakan, Bulungan, dan Berau pada April 2026. Saat itu mereka memanfaatkan momentum berkumpul dalam sebuah kegiatan nasional komunitas Pokémon untuk menggelar pertandingan persahabatan.
“Dari pertemuan itu kami semakin sering bermain bersama. Sekarang sudah terbentuk sekitar 20 pemain aktif dan akhirnya kami bisa menyelenggarakan event besar pertama di Tanjung Selor pada Juni ini,” ujarnya.
Di balik bentuknya yang sederhana, Beyblade yang digunakan para peserta bukanlah mainan biasa. Seluruh koleksi merupakan produk orisinal dengan spesifikasi khusus yang dibeli secara mandiri oleh masing-masing anggota komunitas.
Menurut Bang Illa, harga Beyblade standar berada di kisaran Rp200 ribuan. Sementara koleksi termahal yang dimiliki anggota komunitas di Tanjung Selor nilainya telah menembus lebih dari Rp1 juta dan diperoleh melalui toko khusus maupun pembelian secara daring.
“Semua koleksi ini hasil pembelian pribadi. Ada yang harganya mulai Rp200 ribuan, bahkan ada yang nilainya lebih dari Rp1 juta,” katanya.
Komunitas Beyblade di Kalimantan Utara sendiri berada di bawah naungan Hotspot Kaltara, sebuah komunitas yang mewadahi berbagai hobi seperti koleksi mainan (hobby toys) dan fotografi. Dari berbagai cabang yang ada, Beyblade menjadi salah satu komunitas dengan pertumbuhan anggota paling cepat dalam tiga bulan terakhir.
Ke depan, pengurus berharap geliat Beyblade tidak hanya berhenti sebagai hobi, tetapi mampu berkembang menjadi wadah kompetisi yang rutin mempertemukan para pemain dari berbagai daerah di Kalimantan Utara.
“Kami ingin komunitas ini terus berkembang, mempererat komunikasi antar-daerah, dan rutin menggelar turnamen sehingga semakin banyak masyarakat mengenal Beyblade sebagai hobi yang positif,” harap Bang Illa.
Menariknya, komunitas tersebut tidak hanya diisi oleh kaum pria. Jessy (35), salah satu peserta perempuan asal Tanjung Selor, mengaku mulai bergabung sekitar sebulan terakhir. Baginya, Beyblade bukan sekadar permainan, melainkan sarana melepas penat sekaligus memperluas pergaulan.
“Saya baru hampir sebulan bergabung. Seru sekali karena bisa menjadi hiburan setelah beraktivitas, sekaligus menambah teman. Apalagi setiap turnamen juga ada hadiah yang membuat suasana semakin menarik,” tuturnya.
Di tengah derasnya arus hiburan digital, geliat komunitas Beyblade di Tanjung Selor menjadi warna baru bagi generasi muda. Lebih dari sekadar adu putaran gasing modern, komunitas ini membuktikan bahwa sebuah hobi mampu menjadi ruang berkumpul, membangun persahabatan, melatih sportivitas, serta menghadirkan semangat positif bagi masyarakat Kalimantan Utara. (wd26/dd)






