TANJUNG SELOR – Bagi Alfred, (Kakek Korban) sungai di sekitar rumah bukanlah tempat yang biasa digunakan cucunya, KDP, untuk bermain air. Bocah kelas IV sekolah dasar itu selama ini lebih terbiasa bermain di kolam dengan air yang tenang.
Karena itu, kabar KDP tenggelam di sungai menjadi pukulan sekaligus sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Alfred dan keluarga korban. Saat ditemui Rabu (12/8/2026), Alfred mengingat kembali kebiasaan cucunya. Ia mengatakan KDP memang memiliki perlengkapan untuk berenang, seperti pelampung dan ban, tetapi tidak pernah mengajarkan cucunya berenang langsung di sungai.
“Kalau di kolam sudah biasa dia main. Tapi kalau di sini, belum pernah juga saya lihat dia mandi di sungai langsung,” ujar Alfred
Menurutnya, kondisi sungai sangat berbeda dengan kolam tempat KDP biasanya bermain. Jika kolam memiliki air yang relatif tenang, sungai dipengaruhi kondisi pasang dan surut.
“Di sana kan air tenang. Kalau di sini kan tidak sama, air pasang surut,” katanya.
Alfred tidak mengetahui pasti kapan KDP mulai berada di sekitar sungai. Informasi mengenai keberadaan cucunya baru ia dapat setelah anaknya datang dan memberitahukan bahwa telah tenggelam.
Ia kemudian menuju lokasi untuk memastikan keadaan. Di sana, Alfred melihat bekas aktivitas di sekitar tempat mandi, termasuk kondisi tanah yang masih berlumpur dan basah serta sandal milik cucunya.
Dari keterangan teman-temannya, Alfred mendapat informasi KDP sempat melompat ke sungai. Namun setelah masuk ke air, korban tidak kembali muncul ke permukaan. Teman yang melihat kejadian tersebut kemudian berlari untuk memberitahukan warga.
Baginya, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa sungai memiliki kondisi yang berbeda dengan kolam, terutama bagi anak-anak yang belum terbiasa berenang di arus dan kondisi air sungai. (ve26/nn)









