Sa’ung, Topi Pelindung Khas Dayak Kenyah yang Tetap Eksis di Tengah Modernisasi

redaksi

TANJUNG SELOR – Meski topi modern mudah ditemukan, masyarakat Dayak Kenyah di Kabupaten Bulungan tetap setia menggunakan Sa’ung, topi pelindung tradisional dari daun sang. Tak sekadar penutup kepala, Sa’ung kini jadi simbol budaya, hiasan rumah, hingga sumber ekonomi pengrajin di Desa Teras Baru.

Sa’ung sudah dipakai turun-temurun untuk melindungi kepala dari panas dan hujan saat ke ladang atau ke hutan. Bahannya sederhana, daun sang atau daun rumbai yang ringan, dirangkai dengan rotan sebagai kerangka dan tali pengikat. Prosesnya masih manual, diwariskan dari generasi ke generasi.


“Dahulu orang Dayak Kenyah memakai Sa’ung setiap hari. Sejak kecil kami sudah pakai biar terlindung dari sengatan matahari,” kata Awing, pengrajin Sa’ung di Desa Teras Baru, saat ditemui Rabu(17/6)

Baca juga  Kenaikan BBM Diprediksi Tekan Kelas Menengah dan UMKM

Kini fungsi Sa’ung makin luas. Selain dipakai kerja, Sa’ung juga dibuat jadi hiasan dinding, suvenir, hingga gantungan kunci. Salah satu jenisnya, Sa’ung Aseq, diberi tambahan kain hias di bagian atas sehingga terlihat lebih menarik dan biasa dipakai untuk pajangan atau perlengkapan adat.

Membuat satu Sa’ung butuh ketelitian. Pengrajin bisa menghabiskan waktu hingga 2 hari untuk menghasilkan Sa’ung berkualitas. “Kami juga terkadang menjual Sa’ung karena cukup banyak yang ingin membeli,” ujar Awing.

Bagi Pimai, pengrajin lainnya, membuat Sa’ung bukan hanya melestarikan tradisi leluhur, tapi juga membantu ekonomi keluarga. Dengan pengalaman yang dimiliki, ia bisa membuat hingga 3 buah Sa’ung dalam sehari.

Sa’ung buatannya dijual mulai Rp130 ribu untuk ukuran kecil hingga Rp150 ribu untuk ukuran besar. Pembelinya tak hanya warga lokal, tapi juga wisatawan yang mencari kerajinan khas Dayak.

“Selain menjadi tradisi, Sa’ung juga membantu perekonomian keluarga. Yang terpenting, budaya ini tetap hidup dan bisa dilihat oleh generasi muda,” kata Pimai Gun.

Baca juga  Rapat Pleno Terbuka: Syarwani-Kilat Resmi Ditetapkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bulungan Terpilih 2025-2030


Tantangan terbesar kini adalah menjaga agar tradisi tidak hilang tergerus zaman. Awing berharap generasi muda Dayak tetap bangga memakai Sa’ung. “Walaupun zaman terus berkembang, kami berharap anak muda tetap melestarikan Sa’ung dan menjaga tradisi ini,” tuturnya.


Di balik anyaman daun dan rotan yang sederhana, Sa’ung menyimpan cerita panjang tentang ketekunan dan kecintaan masyarakat Dayak terhadap budaya leluhur. Melestarikan Sa’ung berarti menjaga identitas Kalimantan untuk generasi mendatang. (ve26/nn)

Baca juga

Tags