TANJUNG SELOR – Kabut asap menyelimuti Kabupaten Bulungan menjadi perhartian, terutama pada damak kesehatan yang bisa jadi tertunda. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bulungan mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi ledakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang diprediksi akan terjadi dalam waktu satu hingga dua minggu ke depan.
Kepala Dinkes Bulungan, Imam Sujono, mengungkapkan, peningkatan kasus ISPA melalui tim surveilans saat ini memang sudah terdeteksi, namun belum terlihat signifikan. Kondisi ini, menurutnya, belum menggambarkan dampak sebenarnya dari paparan udara buruk yang terjadi beberapa hari terakhir
“Memang kalau yang dideteksi dari surveilans itu ada peningkatan jumlah kasus, tapi belum terlalu signifikan. Karena kalau analisa kami, saat ini baru memasuki masa inkubasi,” ujar Imam, Selasa (1/9).
Apabila kualitas udara tak kunjung membaik, efek dari asap yang terus dihirup ini baru akan memuncak beberapa pekan ke depan.
“Estimasi kami satu sampai dua minggu lagi itu ada ledakan jumlah ISPA-nya, pasti lebih tinggi dari yang sekarang,” tegas Imam.
Menyadari hal itu, pemerintah daerah mengambil langkah mitigasi. Dinkes Bulungan telah menyiapkan pengadaan sekitar 250 ribu masker. Distribusi masker ini akan dibantu oleh berbagai pihak, termasuk organisasi kemasyarakatan, PMI, hingga Kesbangpol yang telah mengajukan permintaan penyaluran kepada masyarakat.
Ia memastikan, stok obat-obatan di setiap puskesmas untuk menangani pasien ISPA dalam kondisi aman dan mencukupi. Namun, ia menekankan bahwa pencegahan adalah kunci utamanya.
“Obat-obatan kita cukup. Cuma sekarang untuk mitigasi biar ISPA-nya tidak terlalu banyak, maka kita bagikan masker tadi. Biar yang terhirup itu tidak terlalu banyak,” jelasnya.
Selain ISPA, paparan asap pekat ini juga berisiko memicu gangguan pada selaput mata dan memperburuk kondisi penderita asma. Perhatian khusus dari pemerintah juga tertuju pada anak-anak.
Menyikapi kualitas udara yang memburuk, kegiatan belajar mengajar memang telah dialihkan dari rumah. Namun, Imam mewanti-wanti para orang tua agar tidak menyalahartikan kebijakan ini.
Anak-anak yang biasanya bermain di luar, kini diwajibkan menghabiskan waktu di dalam rumah. Perlindungan anak bukan sekadar tugas pemerintah, melainkan butuh pengawasan ketat dari orang tua.
“Jadi apa gunanya belajar dari rumah (kalau bermain di luar). Jadi bukan libur itu ya, belajar di rumah,” pungkasnya. (ve26/nn)












